Friday, March 23, 2012

REVIEW BUKU Antropologi Pendidikan BAB II


REVIEW BUKU
Identitas Buku
Judul Buku      : Antropologi Pendidikan
Penulis             : Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. dan Dr. Ija Suntana, M.Ag.
Penerbit           : CV. Pustaka Setia Bandung
Tahun Terbit    : 2012
Tebal Buku      : 251 hlm.; 16 cm x 24 cm

ANTROPOLOGI PENDIDIKAN BAB II
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Dalam Bab ini Penulis membagi pembahasan menjadi dua sub pokok. Sub yang pertama menjelaskan tentang evolusi manusia dan kemunculan masyarakat. Sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, manusia memiliki struktur biologis yang membantu menentukan manusia dalam bertindak dan berpikir. Manusia juga dapat disebut sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok dan bermasyarakat serta saling membantu satu sama lainnya untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan lainnya. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya ialah manusia merupakan makhluk yang berbudaya yang menciptakan dan memindahkan pengetahuan serta mempertahankan tradisi berpikir dan berperilaku.
Asal mula manusia merupakan hal yang sangat penting yang masih menjadi perbincangan. Penelitian dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan teologis dan pendekatan sains. Kedua pendekatan ini saling bertolak belakang dan sulit ditemukan titik temunya. Pendekatan yang pertama bersifat dogmatis dan kaku sedangkan  pendekatan yang kedua bersifat spekulasi  dan berjangakar material. Pendekatan yang pertama meyakini bahwa semua makhluk hidup di dunia ini berasal dari sebuah proses teologis, berada dalam campur tangan Tuhan. Sedangkan pendekatan yang kedua menganggap segala makhluk hidup di alam ini merupakan hasil proses material yang memiliki titik awal yang bersifat materi dengan cara yang kebetulam. Dan pembuktiaannya pun perlu menggunakan materi pula.
Berdasarkan pendekatan teologis, manusia pertama adalah Adam yang langsung diciptakan melalui tangan Tuhan. Pengetahuan ini bersifat samawi dan didasarkan pada wahyu Ilahiyah yang bersifat dogmatis. Sedangkan pendekatan sains, asal mula manusia dijelaskan oleh teori evolusi biologis yang digagas pertama kali oleh para ilmuan Yunani dan dikembangkan secara sistematis oleh Charles Darwin dan para pendukungnya. Penelitian ini didasarkan dengan memperbandingkan dengan kawanan binatang berkelompok sehingga memunculkan dugaan bahwa manusia bersal dari kera yang telah berevolusi.
Prinsip Dasar Evolusi Biologis
Bentuk-bentuk kehidupan berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain melalui transformasi dan  modifikasi yang tak pernah putus. Darwin mengemukakan bahwa evolusi makhluk hidup didasarkan pada seleksi alam. Teori ini sangat rentan dengan berbagai serangan dan kritik karena teori ini dicetuskan tanpa memedulikan kemunculan teori hereditas oleh Mendel tentang pewarisan karakter yang kurang mendapat perhatian serius.
Dan pada abad ke-20, prinsip pewarisan karakter ini dimunculkan kembali dan digunakakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih definitive tentang berlangsungnnya seleksi alam secara nyata. Teori genetika ini meluas ke jaringan populasi makhluk hidup yang dikenal dengan istilah genetika populasi yang dapat memperkuat gagasan Darwin. Kolaborasi antara teori seleksi alam dan genetika populasi memunculkan teori evolusi sintetika modern yang dikenal dengan sebutan Neo Darwinism.
Hereditas dan Variable Genetika
Unit dasar pewarisan karakter (hereditas) adalah gen yang berupa unit informasi biokimia. Gen terdiri atas unsure pembentuk dasar semua makhluk hidup yang disebut dengan deoxyribonucleic acid (DNA). DNA memiliki kemampuan unik untuk menciptakan tiruan yang betul-betul sama dengan dirinya. Karena gen terdiri atas DNA, ia dapat menciptakan tiruan yang pasti sama dengan dirinya sendiri dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga dapat mempertahankan diri dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Akan tetapi, terkadang terjadi kesalahn dalam mekanisme peniruan tersebut dan gen gagal menciptakan  tiruan dirinya yang benar-benar sama yang dikenal dengan istilah mutasi gen. Dalam setiap populasi di regenerasinya, mutasi tersebut selalu muncul walaupun hanya sedikit. Mutasi ini terjadi dengan kekuatan selektif yang secara sistematik mengeleminasi gen-gen yang berbahaya dan memelihara serta mengekalkan sedikit gen yang menguntukan. Kekuatan seleksi ini disebut dengan seleksi alam.
Seleksi dan Adaptasi
Seleksi alam adalah proses seleksi oleh alam terhadap bahan-bahan genetika tertentu sehingga memungkinkan makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Seleksi alam merupakan sebuah proses adaptif. Jika sebuah sepesies dapat beradaptasi dengan baik bersama habitatnya, dan jika habitatnya tetap atau tidak berubah, kita dapat mengasumsikan bahwa tidak ada evolusi lebih lanjut yang dialami sepesies tersebut secara subtansial.
Evolusi Sepesies Manusia
Dalam sekala kehidupan phylogenetika, manusia termasuk ordo taksonomi yang dikenal dengan primata berjenis Hominidae sekeluarga dengan Cibidae (kera dunia baru), Cercopthecidae (kera dunia lama) dan Hylobatidae (kera besar). Akan tetapi salah kaprah jika menyebutkan bahwa manusia berasal dari kera besar. Karena masing-masing spesies memiliki jalan masing-masing untuk mengembangkan dirinya. Para antropolog mendeskripsikan manusia pertama adalah berjenis Australopithecines berbadan kecil, berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki yang kemudian bertransisi ke homo habilis dan homo erectus yang berperawakan  lebih besar dan kasar serta memiliki volume otak yang kecil. Evolusi selanjutnya diwakili dengan Neandertals. Sepesies ini yang paling dekat dengan manusia modern sekarang.
Evolusi dan Komunikasi
Perkembangan terpenting  manusia dalam evolusi hominid ialah perkembangan kebudayaan yang berkaitan erat dengan evolusi otak dan perkembangan belajarnya. Kebudayaan dimungkinkan berkembang dengan perkembangan komunikasi yang berupa komunikasi simbolis. Dan simbol tersebut bersifat terbuka dan produktif sehingga memunculkan kemungkinan untuk berubah dan berkembang.
Asal mula bahasa belum diketahui secara pasti. Sanderson mengemukakan bahwa bahasa muncul dari pembukaan sistem penyebutan. Sistem penyebutan ini berkembanga dan ditransmisikan kepada generasi selanjutnya melalui pengajaran. Sistem ini dikenal dengan istilah prabahasa. Dengan bahasa sebagai simbol, dapat melancarkan kemunculan kebudayaan manusia.
Sub pokok yang kedua menjelaskan tentang evolusi kebudayaan manusia. Manusia adalah makhluk sosial, karena mereka hidup bersama dalam berbagai kelompok dan teroganisasi dalam istilah masyarakat. Kehidupan berkelompok ini tidak hanya berlaku bagi manusia saja, melainkan juga berlaku bagi sepesies yang lainnya. Akan tetapi  yang membedakannya adalah peranan belajar manusia melebihi peranan yang dimainkan oleh faktor-faktor biologis dalam pembentukan perilaku sosial. Dan belajar manusia merupakan suatu sistem yang diatur secara kultural.
Kebudayaan merupakan salah satu karakteristik anggota masyarakat yang telah dipelajari dan disebarkan, bukan merupakan hasil warisan biologis. Kebudayaan adalah hasil dari hubungan-hubungan yang terpolakan yang dicapai di antara orang-orang dalam masyarakat dan memiliki tiga unsur pokok yakni ide atau gagasan, perilaku dan hasil. Dan mengapa kebudayaan mengalami perubahan? Hal ini didasarkan pada poses sosialisasi manusia yang memungkinkan kemunculan tranmisi kebudayaan. Manusia yang sebagai anggota masyarakat penerus memberikan respon dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang dialami oleh generasi sebelumnya. Ketika kenyataan historis ini berubah, maka orang akan mengubah cara mereka memberikan respond an beradaptasi.
Ciri manusia yang memiliki tingkat diversitas yang luar biasa dalam sistem sosio-kultural akan mengalami kejutan budaya yang disebabkan oleh differential dan perkembangan serta perubahan budaya, yang semula memiliki kebudayaan sendiri dibenturkan dengan kebudayaan yang lain. Karena kita adalah produk kebudayaan kita sendiri,  maka differential kebudayaan menjadi sah sah saja. Karena kebudayaan merupakan  hasil adaptif manusia.
Dalam ragam sosio-kultural manusia dalam penciptaan kebudayaan, para antropolog mengembangkan konsep subkultur dan budaya tandingan.

MENGAPA LEMBAGA PENDIDIKAN PERLU MANAJEMEN PENDIDIKAN



Pendidikan memiliki peran yang sangat vital bagi perkembangan zaman dalam arus globalisasi ini dan sebagai pendorong individu dan masyarakat untuk meraih progresivitas pada setiap aspek kehidupan. Pendidikan merupakan aspek penting dalam proses transformasi personal dan sosial yang mensyaratkan adanya pemberdayaan didalamnya.
Akan tetapi, telah terjadi pergeseran paradigma yang awalnya memandang bahwa lembaga pendidikan merupakan lembaga sosial, dipandang sebagai suatu lahan bisnis yang mengindikasikan perlunya perubahan pengelolaan. Perubahan pengelolaan tersebut harus seirama dengan lajunya perubahan dan tuntutan zaman.
Situasi, kondisi dan tuntutan pada era reformasi ini membawa konsekuensi kepada lembaga pendidikan untuk berpandangan futuristic dan visioner. Maka lembaga pendidikan perlu mengambil langkah antisipatif untuk mempersiapkan diri bertahan pada zamannya. Mempertahankan diri dengan tetap mengacu pada pembenahan total mutu pendidikan berkaitan erat dengan manajemen pendidikan adalah sebuah keniscayaan.
Untuk menuju point perubahan pendidikan secara menyeluruh, maka lembaga pendidikan harus memprioritaskan manajemen pendidikan untuk kelangsungan progam pendidikan sehingga dapat menghasilkan out-put yang diinginkan. Akan tetapi dalam situasi sekarang masih terdapat institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas.
Jika manajemen pendidikan sudah tersusun dengan baik dan universal, niscaya pelayanan sekolah yang buruk, minimnya profesionalisme tenaga pengajar, sarana-prasarana tidak memadai, pungutan liar, hingga kekerasan dalam pendidikan tidak akan lagi terdegar. Manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya dimaksudkan sebagai suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan organisasi melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating, dan controlling dalam penggunaan sumber daya organisasi.
a.      Planning
Dalam penyusunan kegiatan lembaga pendidikan, diperlukan data yang cukup dan valid, pertimbangan dan pemikiran oleh sejumlah orang yang berkaitan dengan hal yang direncanakan. Oleh karena itu kegiatan perencanaan sebaiknya melibatkan setiap unsur lembaga pendidikan tersebut dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
b.                b. Organizing
Pengorganisasian merupakan salah satu aktivitas manajerial yang  juga menentukan berlangsungnya kegiatan kependidikan sebagaimana yang diharapkan. Lembaga pendidikan sebagai suatu organisasi memiliki berbagai unsur yang terpadu dalam suatu sistem yang harus terorganisir secara rapih dan tepat, baik tujuan, personil, manajemen, teknologi, siswa/member, kurikulum, uang, metode, fasilitas, dan faktor luar seperti masyarakat dan lingkungan sosial budaya.
c. Actuating
Dalam konteks lembaga pendidikan, kepemimpinan pada gilirannya bermuara pada pencapaian visi dan misi organisasi atau lembaga pendidikan yang dilihat dari mutu pembelajaran yang dicapai dengan sungguh-sungguh oleh semua personil lembaga pendidikan. Di dalam kepemimpinan  pendidikan sebagaimana dijalankan pimpinan harus dilandasi konsep demokratisasi, spesialisasi tugas, pendelegasian wewenang, profesionalitas dan integrasi tugas untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan organisasi, tujuan individu dan tujuan pemimpinnya.
d. Controling  
        Pengawasan atau controlling adalah suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan untuk mendesain sistem umpan balik informasi; untuk membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan itu. Menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan tersebut serta mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan telah digunakan dengan cara yang paling efekif dan efisien guna tercapainya tujuan sebuah lembaga pendidikan.

REVIEW BUKU Ilmu Perbandingan Pendidikan BAB III&IV


REVIEW BUKU
Identitas Buku
Judul Buku      : Ilmu Perbandingan Pendidikan
Penulis             : Prof. H.M. Arifin.M.E.D
Penerbit           : PT.Golden Terayon Press
Kota Terbit      :Jakarta
Tebal Buku      : vii+125 hlm; 21cm
ILMU PERBANDINGAN PENDIDIKAN
BAB III DAN BAB IV
BAB III
Perkembangan Ilmu Perbandingan Pendidikan
Dalam bab ini dibahas tentang perkembangan ilmu perbandingan pendidikan. perkembangan ini telah dimulai sejak orang memperhatikan sistem kehidupan manusia di dalam masyarakat pada zaman lampau dimana manusia telah mulai melakukan hubungan sosial dan saling memperhatikan satu sama lain. Dengan perhatian orang lain tersebut, orang akan memperhatikan serta menjadikan kehidupan positif orang lain sebagai cerminan bagi dirinya. Terutama dalam sistem kehidupan.
Pendidikan merupaakan suatu gejala masyarakat, dalam artian bahwa sejak dahulu kegiatan manusia adalah mendidik anak-anaknya yang merupakan tugas utama mereka. Dan dalam mendidik anak, sudah tentunya cara yang digunakan berbeda-beda. Pendidikan dalam masyarakat lain adalah merupakan sistem kehidupan yang sejak dahulu menjadi perhatian setiap manusia, yang mendorong untuk dipelajari dan diambil manfaatnya melalui studi tentang segala aspek yang ada di dalamnya. Dengan tinjauan ini, ilmu perbandingan pendidikan berkembang sehingga ia membentuk dirinya sebagai suatu ilmu pengetahuan.
Ilmu perbandingan pendidikan tumbuh dan berkembang melalui 4 tahap periode yaitu:
1.      Periode observasi tentang sistem kehidupan di Negara lain secara umum.
Pada periode ini belum terdapat langkah atau metode pendidikan atau non-pendidikan. gambaran masih bersifat umum dan mengadalkan kekuatan daya ingat pikiran. Para perantau ke Negara lain yang bermediakan perdagangan, pariwisata, perang dan lain-lain masih sedikit yang  memperhatikan sistem kehidupan dan dasar-dasarnya. Hanya menceritakan secara lisan sebatas pengalaman kunjungan mereka yang hanya sepintas.
Dengan mendengarkan cerita-cerita tersebut atau membaca tulisan tentang sistem dan cara kehidupan bangsa lain atau keadaan yang berbeda dengan sistem dan keadaan yang dimiliki, akan menimbulkan dorongan berpikir tentang ikhwal kehidupannya sendiri. Dan dari sinilah timbul pemikiran baru bahkan juga kritik-kritik tentang kelemahan,  cacat dan kekurangannya. Dan dengan hal tersebut timbullah jalan baru untuk lebih maju lagi. Sehingga muncullah para penjelajah yang mulai menuliskan berbagai pengalaman dan pengamatanya.
2.      Periode observasi sistem pendidikan di Negara lain.
Periode ini dimulai pada penghujung abad 18 yang ditandai dengan semakin banyaknya tulisan tentang sistem pendidikan di Negara lain yang tersusun khusus serta dipisahkan dari tulisan-tulisan  tentang sistem kehidupan di Negara lain. Pada masa ini kemajuan pendidikan sangat berkaitan erat dengan kemajuan ekonomi dan industri. Dengan pengaruh kemajuan ekonomi dan industri, bangsa barat mulai memperluas pembukaan sekolah serta mendorong para pendidik dan sarjana untuk mempelajari dasar-dasar kemajuan itu. Oleh karena itu dengan mempelajari sistem pendidikan di Negara yang lebih maju, orang akan membangun pendidikan di Negaranya sendiri.
3.      Periode memperhubungkan antara sistem pengajaran/pengajaran dengan masyarakatnya.
Periode ini dimulai pada awal abad ke-20 yang ditandai dengan studi yang mengaitkan pendidikan dengan masyarakat mulai digencarkan. Periode ini diprakarsai oleh dewan pendidikan Inggris dibawah komando Sir Michael Sadler yang menitik beratkan studinya pada perbandingan pendidikan. Ia mengaitkan sistem pendidikan dengan kebudayaan masyarakat di setiap Negara, karena  pengaitan tersebut merupakan sistem analisa yang benar dalam studi perbandingan pendidikan.
Dengan kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan , hubungan satu Negara dengan Negara yang lain semakin mudah dalam perluasan bidang studi ini sampai menjangkau bidang-bidang kehidupan masyarakat lainnya. Dan dengan terbitnya buku-buku yang ditulis oleh para sarjana yang melakukan studi perbandingan pendidikan, menimbulkan dorongan untuk memperdalam faktor-faktor yang sangat mendasar yang berpengaruh atas perkembangan pendidikan suatu bangsa.
4.      Periode menjelajah faktor kebudayaan yang melandasi atau yang melatar belakangi sistem pendidikan di berbagai Negara secara umum.
Pada periode ini sudah tercipta berbagai metode studi perbandingan, prosedur-prosedurnya serta ketentuan-ketentuannya, baik studi antar regional maupun antar Negara yang menuntut para sarjana untuk mengumpulkan berbagai informasi dan data mengenai operasional Negara lain yang disertai dengan fakta-fakta tentang situasi,  kondisi dan kebudayaan yang mempengaruhinya.
BAB IV
Ketentuan-ketentuan Pembahasan dalam Ilmu Perbandingan Pendidikan
Dalam bab ini dibahas tentang ketentuan-ketentuan pembahasan dalam ilmu perbandingan pendidikan. Agar dalam studi Ilmu Perbandingan Pendidikan dapat berlangsung secara mendalam dan meluas berdasarkan atas pemikiran yang sistematis dan konsisten serta komprehensif. Maka para pembahas perlu memiliki berbagai  kemampuan analisis – ilmiah dalam menginteprestasikan dan menganalisa segala informasi dan data serta fakta yang berhubungan dengan masalah studi perbandingan pendidikan. Oleh karena itu para pembahas harus mempersiapkan diri dengan bekal ilmu pengetahuan serta pribadi yang tidak memihak dalam menelaah permasalahan kependidikan beserta data dan fakta pedagogis yang menyertai dan menompangnya.
Dari hal tersebut banyak para ilmuan pendidikan dan dewan dari lembaga-lembaga pendidikan yang mencoba merumuskan ketentuan-ketentuan pembahasan dalam ilmu perbandingan pendidikan. adapun beberapa diantaranya adalah ketentuan bagi pembahas yaitu; (1). Mampu menganalisa dan menginteprestasikan serta mengevaluasi data permasalahan pendidikan, (2). Mampu memahami perkembangan historis secara umum dari Negara yang distudi, (3). Mampu memahami hakikat dari permasalahan pendidikan, (4). mampu memahami dan memikirkan permasalahan pendidikan secara luas dan mendalam, (5). Mampu mengambil faedah dari pemikiran kependidikan secara umum, (6). Mampu memahami secara luas bahasa asing dari Negara yang distudinya dan mampu melakukan kunjungan studi dan hubungan-hubungan dengan Negara yang distudinya.
Dalam kegiatan pembahasan perbandingan tidaklah mudah karena sering tertumbuk kesulitan-kesulitan yang sulit ditembus. Olehnya pembahasan ini tidak dapat hanya semata-mata menggantungkan pada buku-buku teks maupun refrensi-refrensi yang ada, dan  juga tidak hanya bergantung pada pengalaman-pengalaman serta percobaan-percobaan melainkan bergantung pada banyak hal. Dan problematika tersebut dapat terlihat dalam beberapa hal berikut : (1). Perbedaan data statistik antar Negara saling berbeda satu sama lain, hal tersebut akan menimbulkan kesulitan dalam penginteprestasi-an dan penganalisaan data yang kurang akurat, sehingga kenyataan obyektif sulit diketahui. (2). Data yang tersaji terkadang tidak up to date sehingga kevalidan data diragukan. (3). Walaupun data statistik yang baru dengan angka-angkanya yang reliable, belum dapat menjamin para penstudi memecahkan kesulitan yang dihadapi, oleh karena itu terkadang data kuantitatif terasa keras dan gersang. (4). Perbedaan istilah jenjang belajar serta lamanya studi antar Negara memaksa para penstudi memahaminya dan membandingkan dengan Negara yang distudi. (5). Studi ini juga menuntut para pensetudi untuk memahami bahasa dari Negara yang distudi untuk mengetahui keadaan realita yang terjadi pada Negara tersebut. (6). Studi ini menuntut para pensetudi untuk membekali diri dengan banyak ilmu baik kependidikan maupun non kependidikan. (7). Kesulitan dalam penggunaan pengalaman psikologi dan analogi rasional dikarenakan perbedaan pengalaman dalam masyarakat. (8). Studi ini juga menuntut pembahasan untuk memadukan antara materi dan topik pembahasan. Dengan demikian apabila ada dua hal yang bertentangan, dapat diperbandingkan dengan rasional sedemikian rupa, sehingga materi esensinya tidak melebihi batas-batas studi dalam rangka menghindari diri dari kerusakan.
Akan tetapi hal yang paling penting adalah materi esensinya ini, karena dengan esensi tersebut pembahas akan merasakan hakekat problematikanya, namun topik pembahasan pun diperlukan juga, karena dapat menghubungkan sebab akibat.

RESENSI BUKU Spiritual dan Seni Islam


RESENSI BUKU
Identitas Buku
Judul Buku      : Islamic Art and Spirirtuality (Spiritualitas dan Seni Islam)
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah      :Drs. Sutejo
Penerbit           : Penerbit Mizan Bandung
Tanggal Terbit : September 1993
Tebal Buku      : 230 hlm.
Seni Islam telah menjadi obyek studi para sarjana orientalis dan sarjana muslim lulusan pendidikan barat sejak abad ke-19. Sejak ini dimulailah era ketertarikan dunia memandang kembali seni Islam, mulai dari sejarah, tekhnik penciptaan, lingkungan sosial, dan aspek-aspek lainnya dari seni Islam. Dan dari beberapa karya yang membahas hal tersebut berpegang teguh pada signifikansi dan makna spiritual yang asli. Akan tetapi T burckhatd mengutarakan pendapatnya bahwa masih sedikit karya yang memandang seni Islam sebagai bentuk manifestasi bentuk-bentuk realitas spiritual wahyu Islam itu sendiri karena diwarnai oleh pengejawantahan yang duniawi.
Dari sini Seyyed Hossein Nasr mencoba untuk melihat sekilas aspek-aspek khusus seni Islam dari sudut pandang spiritualitas Islam yang berkaitan dengan prinsip-prinsip wahyu Islam. Untuk memahami seni Islam beliau mengutarakan bahwa berbagai manifestasi seni Islam yang muncul dari kurun waktu yang panjang perlu dihubungkan dengan kekuatan-kekatan serta prinsip-prinsip yang mendasarinya walaupun harus dihubungkan dengan dunia Islam itu sendiri, dengan wahyu Islam yang mempengaruhi seni suci (kesenian yang dihubungkan langsung dengan praktik agama) secara langsung dan seluruh seni Islam pada umumnya. Wahyu Islam dan seni Islam memiliki hubungan klausal yang dibuktikan dengan hubungan organis seni Islam dengan Ibadah Islam dan seni tidak dapat memainkan fungsi spiritual apabila tidak dihubungkan dengan bentuk dan wahyu dalam Islam.
Islam terdiri dari hukum Ilahi, jalan spiritual dan hakikat yang merupakan sumber. Selain itu, hal tersebut memiliki berbagai bentuk ilmu pengetahuan yang bersifat yuridis, teologis, filosofis dan esoteris yang berhubungan dengan dimensi-dimensi dasar ini. Dari sini, seni Islam tidak bersumberkan pada hukum Ilahi yang menegaskan hubungan antara Tuhan dan manusia serta masyarakat pada tingkat perbuatan. Hukum Ilahi memainkan suatu peran penting dalam menciptakan lingkungan dan latar belakang bagi seni Islam, serta menggariskan batas-batas tertentu beberapa seni yang kemudian mendorong yang lainnya. Selain itu hukum Ilahi juga membentuk jiwa seniman dengan mengilhaminya sikap-sikap dan kebajikan-kebajikan yang berasal dari Al-Qur’an serta Hadist dan Sunnah Nabi.
Setelah memaparkan tentang hubungan seni Islam dengan spiritualitas Islam, beliau menjelaskan bagaimana hubungan seni dengan kesucian. Untuk pertama kalinya, beliau memaparkan keindahan seni Kaligrafi yang merupakan hasil pengjawantahan visual dari kristalisasi realitas-realitas spiritual yang terkandung dalam wahyu Islam. kaligrafi memberikan pakaian luar untuk firman ilahi di alam nyata meskipun seni ini masih berhubungan dengan alam spirit. Kaligrafi memiliki kedudukan istemewa dalam Islam sehingga dapat disebut sebagai leluhur seni visual Islam dan memiliki jejak yang istemewa dalam peradaban Islam.
Selain seni kaligrafi, beliau pun memaparkan tentang keindahan arsitektur suci Islam yang berprinsipkan pada kesatuan dan persatuan, yakni masjid, yang merupakan pembentukan kembali dan ikhtisar dari keselarasan, ketertiban, kedamaian alam semesta yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai rumah peribadatan abadi bagi kaum muslim sekaligus tempat untuk penyatuan dan penyucian jiwa. Akar dari arsitektur Islam terdapat pada penyucian kembali alam dalam hubungannya dengan manusia, sebagai bentuk primordial yang tetap menyadari hubungan batinya dengan Yang Maha Esa maupun dengan ciptaan-Nya. Arsitektur suci Islam merefleksikan realitas makhluk Tuhan melalui ilmu pengetahuan yang menjadi dasar bagi struktur arsitektur dan makhluk. Selain itu, arsitektur yang merupakan  seni pra-excellence yang berkaitan dengan ruang, diarahkan pada pencapaian tujuan, yakni menempatkan manusia di hadapan Tuhan melalui sakralisasi ruang yang dibentuk, diatur, dan disesuaikan dengan tekhnik arsitektural.
Sastra, bagi beliau merupakan kajian penting untuk memahami hubungan antara seni dan spiritualitas Islam. karena ajaran Islam berdasarkan pada Firman Tuhan yang diwahyukan sebagai kitab suci yang menempatkan sastra pada posisi yang istemewa diantara berbagai bentuk seni yang ada. Sastra yang terdiri dari logika dan syair bersumberkan pada intelektual yang berdasarkan pada realitas. Dan sumber Islam merupakan perpaduan antara keduanya. Untuk memahaminya perlu melalui penemuan kembali gnosis (ma’rifah) atau metafisika yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang yang mampu menerima pesan-Nya. Dan beliau mendedikasikannya kepada Jalaludin Rumi (penyair dan sufi agung Persia) yang berupaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sastra dan kesenian.
Musik, merupakan sesuatu yang dapat menghipnotis setiap jiwa-jiwa manusia sampai ke relung hatinya memiliki arti penting dari sudut pandang spiritual dan tidak ketinggalan pula syairnya. Musik telah menjamah berbagai bentuk peribadahan Islam semisal adzan dan tilawaatil qur’an. Bahkan musik pun digunakan oleh para tabib untuk merefleksi dan sarana penyembuhan penyakit. Musik berfungsi untuk menentramkan pikiran dari beban kemanusiaan dan menghibur tabiat manusia. Ia merupakan stimulant untuk melihat rahasia ketuhanan. Dan musik spiritual adalah kunci pembuka hazanah kebenaran Ilahi.
Hubungan seni dan spiritualitas Islam pun juga dapat terlihat dalam seni plastis/lukis. Dalam seni ini terdapat berbagai makna simbolis dari gaya kaligrafi, arabeska, pola-pola geometris, simbolisme warna dan lain-lain. Dan hal itu merupakan hasil dari imajinasi yang merupakan perpaduan dari kosmos baik dari alam fisikal maupun primodial. Dari hal tersebut dapat menyiratkan kebesaran-kebesaran Ilahi kepada manusia.
Dalam kesemua seni Islam sudah tentunya memiliki pesan spiritual yang terkandung. Seni sakral merupakan realitas surgawi yang turun ke bumi. Ia merupakan kristalisasi ruh dan bentuk ajaran Islam dalam selubung kesempurnaan yang bukan berasal dari dunia perubahan dan kematian ini. seni Islam tradisional menyampaikan pesan spiritualis dan esensial Islam melalui bahasa abadi, yang justru dengan keabadiannya dan juga kelugasan simbolismenya, maka menjadi kurang efektif dan kurang problematic dibandingkan kebanyakan penjelasan teologis Islam. Salah satu aspek yang berkaitan dengan pesan spiritual  seni Islam adalah kemampuan untuk menyampaikan esensi Islam melalui cara yang lebih langsung dan dapat diahami dibandingkan penjelasan yang ilmiah semata.
Seyyed Hossen Nasr dengan gamblang dan sistematis serta bahasa yang mudah dipahami dalam menjelaskan hal-hal tersebut. Beliau dengan runtut menjelaskan  spiritualitas dan seni Islam dari hubungan antara keduanya hingga beberapa kesenian islam beserta beberapa tokohnya. Selain itu dalam bukunya ini, pemaparan beliau disertai dengan melampirkan beberapa kesenian Islam yang telah terdokumentasi dalam bentuk foto, sehingga dapat mengkongkritkan pemahaman kita serta mengajak kita untuk berimajinasi dan mengalami sendiri secara pra nyata.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host