Showing posts with label PROFESIONALISME GURU. Show all posts
Showing posts with label PROFESIONALISME GURU. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

Penerapan Active Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia


Dalam dunia perguruan tinggi pengajaran bahasa Indonesia dirasa penting bagi mahasiswa. Setelah melihat realita yang terjadi, dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa masih mengalami kesulitan dan kerancuan. Penggunaan EYD maupun kaidah penulisan mahasiswa masih dirasa belum memeuhi criteria untuk dikataka sebagai karya ilmiah yang baik dan benar.
Akan tetapi, sudah tentunya mahasiswa telah mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Dan jika dalam perkuliahan juga masih diberikan materi Bahasa Indonesia terutama bagi mahasiswa non sastra, mereka akan mengalami rasa jenuh dan bosan. Untuk itu, pemberian materi Bahasa Indonesia perlu diberikan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, nyaman dan efektif serta effisien yang salah satunnya dapat diterapkan dengan menggunakan metode active learning. Dan dalam penulisan essay ini akan membahas cotoh penerapan Active Learning dalam pembelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia.
PENALARAN KARANGAN
Pembelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia dengan materi pokok Penalaran karangan bertujuan agar mahasaiswa dapat mengaktualisasi konsep berpikir ilmiah dalam penulisan karangan dan dapat menghargai penalaran konsep orang lain. Adapun tujuan dari materi penalaran karangan agar mahasiswa mampu:
1.      Menjelaskan hakikat penalaran karangan,
2.      Menjelaskan fungsi penalaran dalam karangan,
3.      Menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis penalaran,
4.      Mengaplikasikan penalaran dalam menorganisasikan penalaran,
5.      Menyimpulkan karangan secara tepat,
6.      Menanggapi penggunaan penalaran dalam berbahasa,
7.      Berekspresi dengan kalimat yang logis dan sistematis.
Semua indicator yang telah disebutkan diatas memerlukan contoh dan latihan ekstra dan penuh ketelitian agar mahasiswa mampu mencapainya. Untuk itu dipelukan metode serta setrategi yang kreatif, inovatif dan effektif serta effisien agar dalam menerima materi penalaran karangan, mahasiswa tidak mudah mengalami rasa jenuh dan bosan serta menerima materi secara effektif dan effisien.
Metode yang digunakan dalam pembelajaran penalaran karangan bagi mahasiswa yang dapat digunakan oleh dosen Bahasa Indonesia adalah ceramah interaktif, diskusi, penugasan, the inquiry method dan information search. Sedagkan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran ini adalah strategi Jigsaw Learning.
Pada awal kegiatan pembelajaran, sebelum memulai pembelajaran, dosen mencoba memberikan refleksi agar mahasiswa siap dan focus untuk mengikuti pembelajaran. Kegiatan refleksi tersebut dapat dilakukan dengan cara memutar video ataupun dengan peregangan otot. Setelah melihat kondisi mahasiswa yang telah siap untuk memulai pembelajaran dan dapat focus, dosen memberikan ceramah interktif yang berisikan materi pealaran karangan. Disini mahasiswa dijadikan sebgai obyek pembelajaran. Dosen mencoba memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memancing pemahaman mahasiswa akan materi pembelajaran yang disampaikan. Dan kemudian dosen memberikan kesempatan bertanya bagi mahasiswa, sehingga dalam perjalanan caramah interaktif tersebut akan terjadi dialektika antara dosen dan mahasiswa dan mahasiswa ke mahasiswa. Kemudian dosen melanjutkan kegiatan pembelajaran dengan metode kaji pengalaman (the inquiry method).

Metode kaji pengalaman pengalaman (the inquiry method) diterapkan dengan cara sebagai berikut:
1.        Perwakilan dari mahasiswa diundang ke depan kelas.
2.        Ia diminta mengemukakan pendapatnya mengenai materi penalaran karangan, ia dapat memilih salah satu jenis penalaran karangan yang ada.
3.        Dosen mencoba membantu mahasiswa agar memberanikan diri untuk mengemukakan pendapat dan menuliskan suatu pargraf yang sesuai dengan penalaran karagan yang dipilih.
4.        Dosen dapat menguraikan penlaran yang digunakan oleh mahasiswa dalam menulis paragraph tersebut dan mengklarifikasi penjelasan yang telah disampaikan oleh mahasiswa.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara bergantian yaitu dapat meminta  tiga atau empat mahasiswa secara bergantian untuk menuliskan pargraf serta menganalisis penalaran yang ada dalam paragraph yang telah dituliskan oleh mahasiswa tersebut.
Kegiatan inti pembelajaran, dilakukan dengan menggunakan metode diskusi dan Tanya jawab dengan strategi jigsaw learning. Dosen membagi kelas menjadi empat kelompok kecil, kemudian setiap kelompok dibagikan artikel dengan muaan yang berbeda-beda. Kemudian kemlompok-kelompok tersebut diminta untuk menganalisis penalaran karangan yang digunakan oleh penulis.
Metode diskusi ini menggunakan strategi pembelajaran jigsaw learning yaitu teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group to group exchange) dengan suatu perbedaan penting setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi yang dapat dipelajari dapat disingkat atau “dipotong“ dan di saat tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum yang lain-lain. Setiap kali peserta didik mempelajari sesuatu yang dikombinasi dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, buatlah sebuah kumpulan kumpulan yang bertalian atau keahlian.
Prosedur yang dilakukan dari model strategi jigsaw learning yaitu sebagai berikut:
1.      Dosen membentuk kelompok jigsaw learning. Setiap kelompok mempunyai seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas, wakil dapat diberikan oleh satu mahasiswa ataupun dua mahasiswa. Kelas dibagi menjadi empat kelompok. Dalam mengelompokkan mahasiswa dapat dilakukan dengan cara berhitung dari angka satu sampai empat. Kemudian mahasiswa yang mendapatkan angka satu membuat kelompok dengan temannya yang juga mendapat angka satu, begitu juga selanjutnya sampai mahasiswa yang mendapatkan angka empat. Jika kelas terdiri dari 50 mahasiswa dan dibagi dalam empat kelompok, maka setiap kelompok terdiri dari kurang lebih 12 orang.
2.      Setelah selesai, membentuk kelompok “jigsaw learning”. Setiap kelompok diberikan artikel degan cangkupan isi yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok tersebut diminta untuk berdiskusi dan menganalisis penalaran karangan yang dipakai oleh penulis dalam mengungkapkan daya kreasinya dan keilmuannya dalam artikel tersebut.
3.      Perwakilan dari kelompok-kelompok, diminta untuk menjelaskan hasil yang telah didapatkan dan disimpulkan kepada kelompok-kelompok yang lain. Dan kelompok yang disinggahi oleh perwakilan kelompok tersebut dapat melakukan proses dialektika dan Tanya jawab terhadap wakil tersebut. sehingga dengan diskusi gabungan tersebut dapat menyatukan hasil diskusi kelompok-kelompok sehingga penagkapan yang diterima oleh mahasiswa dapat dilakukan denga lebih merata.
4.      Setelah dirasa cukup mahasiswa dipersilakan untuk mengatur tempat duduk seperti semula.
5.      Dosen memberikan klarifikasi terhadap jalannya diskusi tersebut.
Kegiatan pembelajaran  selanjutnya yaitu dosen bersama mahasiswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan dosen memberikan penguatan terhadap materi yang dianggap penting. Dan kemudian dosen meberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bertanya tentang seputar materi penalaran karangan yang sekiranya dirasa pelum dipahami.
Dari contoh penerapan metode dan strategi active learning diatas, diharapkan proses pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, effektif dan effisien. Sehingga mahasiswa tida merasa jenuh dan bosan serta kedepannya mahasiswa dapat menulis karya ilmiah yang baik dan benar sesuai dengan tujuan pemberian materi Bahasa Inonesia di dunia perguruan tinggi. Dan semoga kedepannya mahasiswa mampu untuk terus berkarya dan meningkatkan gairah tulis menulis sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat pendidikan Indonesia dan mampu bersaing dalam kancah internasional di era globalisasi ini tanpa tedeng-tedeng copy paste dan pengakuan hak milik secara illegal yang dilakukan terhadap karya orang lain, atau istilah populernya sering disebut dengan pengklaiman dan plagiasi.                                                     
Daftar Referensi:
1.      L.Silbermen, Melvin. 2011. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media
2.      Widjono Hs. 2005. Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo

Tuesday, March 27, 2012

PERANAN AGAMA ISLAM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan pendapat ahli jiwa, bahwa yang mengendalikan tindakan seseorang adalah kepribadiannya. Kepribadian terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang telah dialaluinya. Bahkan sejak dari kandungan pun telah menerima berbagai pengaruh terhadap kelakuan dan kesehatan mental. Untuk itulah perlu adanya bimbingan dan pengajaran serta penanaman nilai-nilai agama Islam dan pembiasaan-pembiasaan yang baik sejak lahir. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat membentuk kepribadian manusia yang berakhlak karimah yang sesuai dengan ajaran agama. Karena kepribadian merupakan kebiasaan yang mendapatkan keterampilan-keterampilan gerak dan kemampuan untuk meggunakan secara sadar.
Islam merupakan sumber utama dalam membentuk pribadi seorang muslim yang baik. Dengan berlandasankan Al-Quran dam As-Sunnah, Islam mengarahkan dan  membimbing manusia ke jalan yang diridhoi-Nya dengan membentuk kepribadian yang berakhlak karimah. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Nabi diutus oleh Allah untuk membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga sebagai figur konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan berbagai permasalahan yang berkaitan dnegan jiwa manusia agar manusia terhindar dari segala sifat-sifat yang negatif.
Oleh karena itu, manusia diharapkan dapat saling memberikan bimbingan sesuai dengan kapasitasnya, sekaligus memberikan konseling agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang sebenarnya. Dengan pendekatan Islami, maka pelaksanaan konseling akan mengarahkan klien kearah kebenaran dan juga dapat mebimbing dan mengarahkan hati, akal dan nafsu manusia untuk menuju kepribadian yang berkhlak karimah yang telah terkristalisasi oleh nilai-nilai ajaran Islam. Dan hal ini perlu diperhatikan oleh seorang guru untuk menunjang kesuksesan pendidikan Islam disekolah maupun madrasah dalam melaksanakan bimbingan dan konseling untuk mengentaskan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik serta mengarahkannya untuk membentuk insan kamil yang memiliki kepribadian berakhlak karimah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Islam
Kata bimbingan dan konseling merupakan pengalihan bahasa dari istilah Inggris guidance and counseling. Pengertian Bimbingan secara etimologi adalah menunjuk, membimbing, atau membantu. Sedangkan pengertian bimbingan secara terminologi menurut Dr. Moh Surya (1986) bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada  yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengerahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Dan pengertian konseling secara etimologi adalah nasehat, anjuran dan ajaran. Dengan demikian konseling dapat diartikan sebagai pemberian nasehat, pemberian anjuran dan pembicaraan dengan bertukar pikiran.[1] Sedangkan secara terminologi pengertian konseling adalah sebagaimana berikut:
1.      C. Patterson (1959) mengemukakan bahwa konseling ialah proses yang melibatkan hubungan antar pribadi antara seorang terapis dengan satu klien atau lebih, dimana terapis menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan sitematik tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan mental klien.
2.       Edwin C. Elwis (1970) mengemukakan bahwa konseling adalah suatu proses dimana orang yang bermasalah dibantu secara pribadi untuk merasa dan berprilaku yang lebih memuaskan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak terlibat (konselor) yang menyediakan informasi dan reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan prilaku yang memungkinkannya berhubungan secara efektif dengan dirinya dan lingkungannya.
3.      Menurut Williamson, konseling diartikan sebagai suatu proses personalisasi dan individualisasi untuk membantu seseorang dalam mempelajari mata pelajaran di sekolah. Ciri-ciri perilaku sebagai warga negara dan nilai-nilai pribadi dan sosial serta kebiasaan dan semua kebiasaan lainnya, mempelajari keterampilan (skill), sikap dan kepercayaan yang dapat membantu dirinya selaku makhluk yang dapat menyesuaikan diri secara normal.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik garis besarnya, bahwa konseling adalah suatu aktifitas pemberian nasihat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor dan klien dengan menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan sistematik tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan mental klien.
Bimbingan dan konseling saling berkaitan satu sama lain. Hal ini dikarenakan bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang integral. Konseling merupakan salah satu tekhnik dan alat dalam pelayanan bimbingan. Dan pendapat lain yang mengatakan bahwa bimbingan memusatkan diri pada pencegahan munculnya masalah, sedangkan konseling memusatkan diri pada pencegahan masalah individu atau dapat dikatakan bahwa bimbingan bersifat preventif sedangkan konseling bersifat kuratif.[2]
B.     Bimbingan dan Konseling Islami
Dalam BK Islami perlu diketahui apa tujuan dari BK Islami tersebut. berangkat dari hal tersebut, Islam memandang bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan sebagai khalifah di muka  bumi untuk mengabdi kepada-Nya. Dari hal tersebut dapat dirumuskan bahwa tujuan dari bimbingan dan konseling Islami adalah untuk meningkatkan dan menumbuhkan kesadaran manusia tentang eksistensinya sebagai makhluk dan khalifah Allah swt di muka bumi ini, sehingga setiap aktifitas dan tingkah lakunya tidak keluar dari tujuan hidupnya, yakni menyembah atau mengabdi kepada Allah swt.
Secara kodrati, manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk religius yang memiliki keeksistensiannya dan hidup secara bersama-sama. Manusia dilahirkan sebagai makhluk monopluralis yang berunsurkan jasad dan ruh dengan disertai akal dan hati nurani dan hawa nafsu diberi kebebasan untuk berkehendak. Akan tetapi hal tersebut  menuntut adanya tanggung jawab yang harus dipikulnya.  Oleh karena itu, dengan bimbingan dan konseling daimaksudkan agar manusia mampu memhami potensi-potensi insaniahnya, dimensi-dimensi kemanusiaanya, termasuk memahami berbagai persoalan hidup dan mencari alternati pemecahannya.[3] Dengan pemahaman ajaran-ajaran Islam, secara preventif dapat mencegah manusia dari berbagai bentuk perbuatan negatif yang dapat merugikanya dirinya maupun orang lain. Allah berfirman dalam Al-Quran: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.[ QS. Al-Ankabut(29): 45]. Dan (40) Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (41) Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).[An-Naziat (79): 40-41]. Apabila hal tersebut terjadi maka kebahagiaan yang hakiki yang akan diperoleh.
Di era globalisasi ini, ditemukan banyak individu yang terbuai dengan urusan dunia sehingga melahirkan sikap individualistik dan sifat-sifat negatif semacamnya. Sikap dan perilaku yang demikian telah menyimpang dari perkembangan fitrah manusia yang telah Allah berikan. Bahkan hal tersebut dapat menjauhkan hubungan manusia sebagai hamba kepada Tuhannya meskipun hubungan sesama manusia tetap berjalan dengan baik. Hal demikian dapat terjadi dikarenakan kekurang perhatian pendidikan dan bimbingan yang diberikan sebelumnya terhadap hal tersebut.
Dari penjelasan diatas bahwa konseling Islami adalah suatu usaha membantu individu dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya, sehingga ia kembali menyadari peranannya sebagai khalifah dibumi dan berfungsi untuk menyembah kepada Allah swt., sehingga askhirnya tercipta kembali hubungan baik dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adlah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami oleh manusia, ternyata menimbulkan suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan hanya menimbulkan perasaan hampa. Akhir-akhir ini sedang berkembang kecenderuangan manusia untuk menata kehidupan yang berlandaskan pada nilai-nilai spiritual. Keadaan ini telah mendorong perkembangan bimbingan dan konseling yang berlandaskan nilai spiritual dan religi. 
Dalam agama, terutama agama Islam, menempatkan manusia pada kedudukan yang mulia. Manusia diberi jabatan oleh Allah sebagai khliafah di muka bumi dengan keistemewaan-keistemewaan yang telah dibawanya sejak lahir (fitrah). Dan fitrah tersebut tidak akan berkembang dengan tanpa adanya bimbingan dan pengajaran. Dengan perjalanan perkembangan fitrah manusia, akan menghadapi berbagai permasalaah. Dengan pendekatan agama, konselor akan dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh klien. Karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia untuk mewujudkan rasa tentram, damai dalam batin manusia dalam menuju kebahagiaan yang hakiki.
C.    Pendekatan Islami Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling
Pendekatan Islami dalam bimbingan dan konseling dapat diakaitkan dengan aspek-aspek psikologis yang meliputi pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan dan lain-lain yang berkaitan dengan klien dan konselor. Bagi pribadi muslim yang berlandaskan tauhid, merupakan pribadi yang bekerja keras untuk melaksanakan tugas suci yang telah Allah berikan dan percayakan kepadanya, yang mana baginya merupakan suatu ibadah. Sehingga pada pelaksanaan bimbingan dan konseling, pribadi muslim berprinsip pada hal-hal sebagaimana yang disampaikan oleh Nelly Nurmelly dalam papernya peran agama dalam bimbingan konseling berikut ini:
1.      Selalu memiliki prinsip landasan dan prinsip dasar yaitu hanya beriman kepada Allah swt.
2.      Memiliki prinsip kepercayaan, yakni beriman kepada malaikat.
3.      Memiliki prinsip kepemimpinan,  yakni beriman kepada Nabi dan Rosul-Nya.
4.      Selalu memiliki prinsip pembelajaran, yakni berprinsip pada Al-Quran.
5.      Memiliki prinsip masa depan, yakni beriman kepada hari akhir.
6.      Memiliki prinsip keteraturan, yakni beriman kepada ketentuan Allah.
Jika seorang konselor memegang prinsip tersebut, maka pelaksanaan bimbingan dan konseling akan mengarah kearah kebenaran, selanjutnya dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling perlu memiliki tiga langkah untuk mewujudkan tujuannya. Pertama, memiliki mission statement yang jelas yaitu daua kalimat syahadat. Kedua, memiliki sebuah metode pembangunan karakter sekaligus simbol kehidupan yaitu shalat lima waktu. Ketiga, memiliki kemampuan pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan puasa. Dengan prinsip tersebut, seorang konselor dapat  menghasilkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang sangat tinggi (Ahlakul Karimah). Selain itu seorang konselor juga perlu mengetahhui pandangan filsafat Ketuhanan (Theologi) karena manusia sejatinya telah membawa potensi bertuhan sejak dilahirkan. Dalam menghadapi masalah diarahkan dengan pendekatan agama. Yang mana dalam agama mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konseling dan terapi yang didasarkan kepada Al-Quran dan As-sunnah. Dan sudah pastinya, pelaksanaan bimbingan dan konseling ddengan pendekatan agama Islam, akan membawa kepada peningkatan iman, ibadah dan jalan yang diridhai Allah swt.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi manusia, agama telah mengatur berbagai aspek kehidupan manusia untuk mewujudkan rasa damai dan tentram bagi jiwa manusia dalam menuju kebahagiaan yang hakiki. Peranan agama Islam dalam menghadapi kesehatan mental manusia adalah sebagaimana berikut:
1.      Ajaran Islam beserta seluruh petunjuknya yang ada di dalamnya merupakan obat bagi jiwa atau penyembuh segala penyakit hati yang terdapat dalam jiwa manusia.
2.      Ajaran Islam memberikan bantuan kejiwaan kepada manusia dalam menghadapi cobaan  dan mengatasi kesulitan.
3.      Ajaran Islam memberikan rasa aman dan tentram yang menimbulkan keimanan kepada allah dalam jiwa seorang mukmin.
Bagi seorang mukmin, ketenangan jiwa, rasa aman dan ketentraman jiwa akan terealisasi dengan keimanannyakepada Allah yang akan membekali harapan akan pertolongan, lindungan dan penjagaan-Nya.
D.    Teori-Teori Konseling dalam Islam
Yang dimaksud dengan teori-teori konseling dalam Islam adalah landasan yang benar dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling agar dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan perubahan-perubahan positif bagi klien mengenai cara dan paradigma berfikir, cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan, cara berkeyakinan dan cara bertingkah laku berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Allah berfirman dalam Al-Quran: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl (16): 125]. Ayat tersebut menjelaskan beberapa teori atau metode dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Teori-teori tersebut sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Hamdani Bakran (2002) adalah sebagaimana berikut:
1.      Teori Al-Hikmah
Sebuah pedoman, penuntun dan pembimbing untuk memberi bantuan kepada individu yang sangat membutuhkan pertolongan dalam mendidik dan mengembangkan eksistensi dirinya hingga ia dapat menemukan jati diri dan citra dirinya serta dapat menyelesaikan atau mengatasi berbagai permasalahan hidup secara mandiri. Proses aplikasi konseling teori ini semata-mata dapat dilakukan oleh konselor dengan pertolongan Allah, baik secara langsung maupun melalui perantara, dimana ia hadir dalam jiwa konselor atas izin-Nya.
2.      Teori Al-Mauidhoh Hasanah
Yaitu teori bimbingan atau konseling dengan cara mengambil pelajaran-pelajaran dari perjalanan kehidupan para Nabi dan Rasul. Bagaimana Allah membimbing dan mengarahkan cara berfikir, cara berperasaan, cara berperilaku serta menanggulangi berbagai problem kehidupan. Bagaimana cara mereka membangun ketaatan dan ketaqwaan kepada-Nya.
Yang dimaksud dengan Al-Mau’izhoh Al-Hasanah ialah pelajaran yang baik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya, yaitu dapat membantu klien untuk menyelesaikan atau menanggulangi problem yang sedang dihadapinya.
3.      Teori Mujadalah yang baik
Yang dimaksud teori Mujadalah ialah teori konseling yang terjadi dimana seorang klien sedang dalam kebimbangan. Teori ini biasa digunakan ketika seorang klien ingin mencari suatu kebenaran yang dapat menyakinkan dirinya, yang selama ini ia memiliki problem kesulitan mengambil suatu keputusan dari dua hal atau lebih; sedangkan ia berasumsi bahwa kedua atau lebih itu lebih baik dan benar untuk dirinya. Padahal dalam pandangan konselor hal itu dapat membahayakan perkembangan jiwa, akal pikiran, emosional, dan lingkungannya. Prinsip-prinsip dari teori ini adalah sebagai berikut:
a.       Harus adanya kesabaran yang tinggi dari konselor;
b.      Konselor harus menguasai akar permasalahan dan terapinya dengan baik;
c.       Saling menghormati dan menghargai;
d.      Bukan bertujuan menjatuhkan atau mengalahkan klien, tetapi membimbing klien dalam mencari kebenaran;
e.       Rasa persaudaraan dan penuh kasih sayang;
f.       Tutur kata dan bahasa yang mudah dipahami dan halus;
g.      Tidak menyinggung perasaan klien;
h.      Mengemukakan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan tepat dan jelas;
i.        Ketauladanan yang sejati. Artinya apa yang konselor lakukan dalam proses konseling benar-benar telah dipahami, diaplikasikan dan dialami konselor. Karena Allah sangat murka kepada orang yang tidak mengamalkan apa yang ia nasehatkan kepada orang lain. Dalam firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [Qs. Ash-Shaff: 2-3].
Teori konseling “Al-Mujadalah bil Ahsan”, menitikberatkan kepada individu yang membutuhkan kekuatan dalam keyakinan dan ingin menghilangkan keraguan terhadap kebenaran Ilahiyah yang selalu bergema dalam nuraninya. Seperti adanya dua suara atau pernyataan yang terdapat dalam akal fikiran dan hati sanubari, namun sangat sulit untuk memutuskan mana yang paling mendekati kebenaran.
E.     Teknik-tekning Konseling
Konseling merupakan aktifitas untuk menciptakan perubahan-perubahan  dan perbaikan-perbaikan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, ada perlunya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling membutuhkan teknik-teknik  yang memadai. Berikut ini adalah beberapa teknik konseling sebagaimana yang telah disampaikan oleh Hamdani Bakari (2002), yakni:
1.      Teknik yang bersifat lahir
Teknik yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang dapat di lihat, di dengar atau dirasakan oleh klien (anak didik) yaitu dengan menggunakan tangan atau lisan antara lain:
a.       Dengan menggunakan kekuatan, power dan otoritas
b.      Keinginan, kesungguhan dan usaha yang keras
c.       Sentuhan tangan (terhadap klien yang mengalami stres dengan memijit di bagian kepala, leher dan pundak)
d.      Nasehat, wejangan, himbauan dan ajakan yang baik dan benar. Maksudnya dalam konseling, konselor lebih banyak menggunakan lisan yang berupa pertanyaan yang harus dijawab oleh klien dengan baik, jujur dan benar. Agar konselor bisa mendapatkan jawaban dan pernyataan yang jujur dan terbuka dari klien, maka kalimat yang dilontarkan konselor harus mudah dipahami, sopan dan tidak menyinggung perasaan atau melukai hati klien. Demikian pula ketika memberikan nasehat hendaklah dilakukan denagn kalimat yang indah, bersahabat, menenangkan dan menyenangkan.
e.       Menbacakan do'a atau berdo'a dengan menggunakan lisan
f.       Sesuatu yang dekat dengan lisan yakni dengan air liur hembusan (tiupan)
2.      Teknik yang Bersifat Batin
Yaitu teknik yng hanya dilakukan dalam hati dengan do'a dan harapan namun tidak usaha dan upaya yang keras secara konkrit, seperti dengan menggunakan potensi tangan dan lisan. Oleh karena itulah Rosululloh bersabda "bahwa melakukan perbuatan dan perubahan dalam hati saja merupakan selemah-lemahnya iman".
Teknik konseling yang ideal adalah dengan kekuatan, keinginan dan usaha yang keras dan sungguh-sungguh dan diwujudkan dengan nyata melalui perbuatan, baik dengan tangan, maupun sikap yang lain. Tujuan utamanya adalah membimbing dan mengantarkan individu (anak didik) kepada perbaikan dan perkembangan eksistensi diri dan kehidupannya baik dengan Tuhannya, diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. 

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan dan konseling dalam pendidikan Islam ialah suatu aktifitas memberikan bimbingan, pengajaran, dan pedoman kepada peserta didik yang dapat memngembangkan potensi akal pikiran, kejiwaan, keimanan dan keyakinannya serta dapat menanggulangi problematika dalam keluarga, sekolah dan masyarakat dengan baik dan benar secara mandiri berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadis. Dengan menggunakan teknik-teknik tertentu baik yang bersifat lahir ataupun batin.
Tujuan bimbingan dan konseling pendidikan Islam adalah membantu individu mencegah timbulnya problem-problem yang berkaitan dengan kegiatan belajar / pendidikan, membantu individu memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan belajar/pendidikan, dan membantu individu memelihara situasi dan kondisi kegiatan belajar agar tetap baik dan mengembangkannya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bakari, Hamdani. 2002. Konseling dan Psikoterapi Islam. Fajar Pustaka. Yogyakarta
Fatimatuzzahro. 2011. Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Islam. http://fatimatuzzahrofadhil.blogspot.com/2011/09/bimbingan-dan-konseling-dalam.html
Maisaroh, Siti. 2011. Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Islam. http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2037794-bimbingan-dan-konseling-dalam-pendidikan/
Nurmelly, Mely. 2011. Peran Agama Dalam Bimbingan dan Konseling. Widyaswara Muda bdk. Palembang.
Rahim Faqih, Aunur. 2001. Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. UII press:Yogyakarta
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Rajawali Pers: Jakarta



[1] Hamdani Bakran, 2002, Konseling & Psikoterapi Islam,(Rajawali Pers:Yogyakarta) hlm. 179
[2]Aunur Rohim Faqih, 2001, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam,(Fajar Pustaka: Yogyakarta) hlm. 2
[3] Tohirin, 2007, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (UII Pers: Yogyakarta)hlm. 51

Wednesday, January 4, 2012

KECERDASAN SPIRITUAL KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia ini masih berorientasi pada pragmatism, yakni diarahkan untuk penyediaan sumber daya manusia berkualitas. Sehingga dengan hal tersebut, pembangunan dapat dilaksanakan secara cepat. Oleh karena itu, konsep pendidikan indonesiabelum mampu menyentuh dimensi humanity dimana manusia hanya dianggap menjadi produk capital dan sebagai alat untuk mengembangkan modal dengan berdasarkan dari materialistik. Berdasarkan hal tersebut, keberhasilan pendidikan yang didasarkan pada teori human capital diukur dari seberapa besar rate of return pendidikan terhadap pembangunan ekonomi.
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk social dan spiritual. Dan menurut Paulo freire, hakikatnya manusia mampu melakukan transendensi dengan semua realitas yang melingkupinya. Dengan hal itu, manusia akan mengkonstruksi kesadaran integral tanpa merduksi konsep “kesatuan mistik universum” dalam dirinya. Sehingga dengan kesatuan tersebut dapat menimbulkan sifat humanity dan menuju insan kamil. Sebagaimana hakikat dari tujuan pendidikan Indonesia adalah untuk membentuk insane paripurna, baik  di dunia maupun di akhirat.
Maka, untuk mewujudkan perubahan pendidikan Indonesia  secara menyeluruh, maka perlu memprioritaskan manajemen pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidiakan. Dalam hal ini, yang paling berperan aktif adalah educational leadership yang mengatur, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengontrol pola pergerakan pendidikan. Dan untuk itu, seorang pemimpin perlu memiliki dan mengintegralkan serta mnyeimbangkan Intelligence Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient. Dan dalam makalah ini akan membahas tentang spiritual educational leadership.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Hakikat Kecerdasan Spiritual, Kepemimpinan Pendidikan dan Kepemimpinan Spiritual
Istilah “spiritual” berasal dari kata dasar bahasa Inggris yakni “spirit” yang memiliki cakupan makna: jiwa,  arwah / roh, semangat, hantu, moral dan tujuan atau makna  yang hakiki.  Sedangkan dalam Bahasa Arab, istilah spiritual terkait dengan yang ruhani dan ma’nawi dari segala sesuatu.
Makna inti dari kata spirit bermuara kepada kehakikian, keabadian dan  ruh, bukan yang bersifat sementara dan  tiruan. Dalam perspektif Islam, dimensi spiritualitas senantiasa berkaitan secara langsung dengan realitas Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa (tauhid). Spiritualitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia, karena spiritualitas merupakan inti dari kemanusiaan itu sendiri. Manusia terdisi dari unsur material dan spiritual atau unsur jasmani dan ruhani. Sedangkan perilaku manusia merupakan produk tarik-menarik antara energi spiritual dan material atau antara dimensi ruhaniah dan jasmaniah. Dorongan spiritual senantiasa membuat kemungkinan membawa dimensi material manusia kepada dimensi spiritualnya (ruh, keilahian).[1]
Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai hidup, menempatkan perilaku dalam konteks makna secara lebih luas.[2] Menurut Zohar (dalam Abd. Wahab:2011) SQ merupakan syarat mutlak bagi berfungsinya IQ dan EQ secara efektif. SQ telah ada dalam diri manusia sejak lahir. Hal ini ditujukan untuk membantu manusia dalam membangun dirinya secara utuh. Dalam perjalanan kehidupan manusia, tidak hanya berdasarkan pada rasio saja, melainkan juga menggunakan hati nurani sebagai pusat SQ. Karena kebenaran sejati sebenarnya lebih terletak pada hati nurani bahkan menurut N. Dyakarya secara ekstrim berpendapat bahwa suara nurani merupakan suara Tuhan.
Sedangkan hakikat dari kepemimpinan adalah suatu kegiatan memengaruhi orang lain agar orang tersebut dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Disini pemimpin merupakan factor penentu dalam keberhasilan suatu organisasi atau usaha. Sebab seorang pemimpin dituntut untuk mampu mengelola organisasi, memengaruhi secara konstruktif orang lain, dan menunjukan perilakubenar yang harus dikerjakan bersama-sama serta memengaruhi semangat kerja kelompok.[3]
Pendidikan secara umum merupakan usaha atau proses yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa untuk mendidik dan mengajar anak didik agar mereka dapat mencapai kedewasaan.[4] Maka dari uraian tersebut kepemimpinan pendidikan adalah suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan  dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.
Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian). Kepemimpinan yang mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan, kasih sayang dan implementasi nilai dan sifat-sifat ketuhanan lainnya dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan.[5]
B.       Karakteristik kepemimpinan Spiritual
Seiring dengan ditemukannya konsep kecerdasan spiritual yang justru dianggap sebagai the ultimate intelligence dan sebagai pondasi yang diperlukan bagi keefektifan dua kecerdasan yang lain yakni IQ dan EQ. Sebagaimana yang diuraikan diatas, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang berbasis pada etika religius, kepemimpinan atas nama Tuhan,  yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan dalam memimpin makhluk-makhluk-Nya.
Adapun karakteristik dari kepemimpinan sepiritual sebagaimana yang disampaikan oleh prof. Dr. Tobroni dalam makalahnya Spiritual Leadership  The Probem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam berikut ini:
1.      Kejujuran sejati.
Rahasia sukses para pemimpin besar dalam mengemban misinya adalah memegang teguh kejujuran. Berlaku jujur senantiasa membawa kepada keberhasilan dan kebahagiaan pada akhirnya, walaupun mungkin pada boleh jadi terasa pahit.
2.      Fairness
Pemimpin spiritual mengemban misi sosial untuk menegakkan keadilan di muka bumi, baik adil terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain. Bagi para pemimpin spiritual, menegakkan keadilan bukan sekedar kewajiban moral religius dan tujuan akhir dari sebuah tatanan sosial yang adil,  melainkan sekaligus dalam proses dan prosedurnya untuk keberhasilan kepemimpinannya.
3.      Semangat amal shaleh
Kebanyakan pemimpin suatu lembaga, mereka sebenarnya bekerja bukan untuk orang dan  lembaga yang dipimpin, melainkan untuk “keamanan”, “kemapanan” dan “kejayaan” dirinya. Tetapi kepemimpinan spiritual bersikap berbeda, yakni bekerja karena panggilan dari hati nurani yang ditujukan semata-mata untuk mengharap ridho Tuhan.
4.      Membenci formalitas dan organized religion
Bagi seorang spiritualis, formalitas tanpa isi bagaikan pepesan kosong.  Organized religion biasanya hanya mengedepankan dogma, peraturan, perilaku dan hubungan sosial yang terstruktur yang berpotensi memecah belah.. Tindakan formalitas perlu dilakukan untuk memperkokoh makna dari substansi tindakan itu sendiri dan dalam rangka merayakan sebuah kesuksesan, kemenangan. Pemimpin spiritual lebih mengedepankan tindakan yang genuine dan substantive.

5.      Sedikit bicara banyak kerja dan santai
Banyak bicara banyak salahnya, banyak musuhnya, banyak dosanya serta sedikit kontemplasinya dan sedikit karyanya. Seorang pemimpin spiritual  adalah pemimpin yang sedikit bicara banyak kerja. Ia lebih mnegedepankan pekerjaan secara efisien dan efektif.
6.      Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain.
Sebagaimana dikemukakan di muka, pemimpin spiritual berupaya mengenali jati dirinya dengan sebaik-baiknya. Upaya mengenali jati diri itu juga dilakukan terhadap orang lain. Dengan mengenali jati diri ia dapat membangkitkan segala potensinya dan dapat bersikap secara arif dan bijaksana dalam berbagai situasi.
7.      Keterbukaan menerima perubahan.
“Perubahan” adalah kata yang paling disukai bagi kelompok tertindas dan sebaliknya paling ditakuti oleh kelompok mapan. Pimpinan biasanya dikategorikan sebagai kelompok mapan dan pada umumnya berusaha menikmati kemapanannya dengan menolak perubahan. Kalaupun ia gencar mengadakan perubahan  adalah dalam rangka mempertahankan atau mengamankan posisinya.
Pemimpin spiritual berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Ia tidak alergi dengan perubahan dan juga bukan penikmat kemapanan. Pemimpin spiritual memiliki rasa hormat bahkan rasa senang dengan perubahan yang menyentuh diri mereka yang paling dalam sekalipun
8.      Pemimpin yang dicintai.
Pemimpin pada umumnya sering tidak perduli apakah mereka dicintai para karyawannya atau tidak. Bagi mereka dicintai atau dibenci itu  tidak penting, yang penting dihormati dan memperoleh legitimasi sebagai pemimpin. Bahkan sebagian diantara mereka merasa tidak perlu dicintai karena hal itu akan menghalangi dalam mengambil keputusan yang sulit yang menyangkut persoalan karyawannya. Pernyataan ini mungkin  ada benarnya, akan tetapi bagi pemimpin spiritual, kasih sayang sesama justru merupakan ruh (élan vital, spirit) sebuah organisasi. Cinta kasih bagi pemimpin spiritual bukanlah cinta kasih dalam pengertian sempit yang dapat mempengaruhi obyektifitas dalam pengambilan keputusan dan memperdayakan kinerja lembaga, tetapi cinta-kasih yang memberdayakan, cinta kasih yang tidak semata-mata bersifat perorangan, tetapi cita kasih struktural yaitu cinta terhadap ribuan orang yang dipimpinnya.
9.      Think Globally and act locally
Statemen di atas merupakan visi seorang pemimpin spiritual. Memiliki visi jauh ke depan dengan fokus perhatian kekinian dan kedisinian. Dalam hal yang paling abstrak (spirit, soul, ruh) saja ia dapat meyakini, memahami dan menghayati, maka dalam kehidupan nyata ia tentu lebih dapat memahami dan menjelaskan lagi walaupun kenyataan itu merupakan cita-cita masa depan. Ia memiliki kelebihan  untuk menggambarkan idealita masa depan secara mendetail dan bagaimana mencapainya kepada orang lain seakan-akan gambaran masa depan itu sebuah realitas yang ada di depan mata. Disiplin Tetapi Fleksibel dan Tetap Cerdas dan Penuh Gairah
Kedisiplinan  pemimpin spiritual tidak didasarkan pada sistem kerja otoritarian yang menimbulkan kekakuan dan ketakutan, melainkan didasarkan pada komitmen dan kesadaran yaitu kesadaran spiritual yang oleh Percy dianggap sebagai bentuk komitmen yang paling tinggi setelah komitmen politik, komitmen intelektual dan komitmen emosional. Pemimpin spiritual adalah orang yang berhasil mendisiplinkan diri sendiri dari keinginan, godaan dan tindakan destruktif atau sekedar kurang bermanfaat atau kurang patut. Kebiasaan mendisiplinkan diri ini menjadikan pemimpin spiritual sebagai orang yang teguh memegang prinsip, memiliki disiplin yang tinggi tetapi tetap fleksibel, cerdas, bergairah dan mampu melahirkan energi yang seakan tiada habisnya.
10.  Kerendahan Hati
Seorang pemimpin spiritual menyadari sepenuhnya bahwa semua kedudukan, prestasi, sanjungan dan kehormatan itu bukan karena dia dan bukan untuk dia, melainkan karena dan untuk Dzat Yang Maha Terpuji
C.      Spiritual Leader Sebagai Pemecah Masalah Pendidikan Indonesia
Sebagaimana yang diuraikan diatas, bahwa masalah-masalah pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diatasai melalui spiritual leadership. Dengan kata lain pemimpin spiritual adalah faktor utama terjadinya perubahan dari suatu lembaga pendidikan untuk meraih prestasi. Implementasi puncak etika religius dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan orang  yang memiliki komitmen (kepedulian) dan dedikasi (pengabdian), sabar, rela berkorban, berjuang tanpa kenal lelah dan ihlas. Inilah orang yang memiliki spiritualitas, orang yang mampu menjadi soko guru tegaknya lembaga pendidikan.[6]
Bagaimana pemimpin spiritual dalam mengembangkan pendidikan Islam? Dan peran apa saja yang dilakukan dalam mengembangkan pendidikan Islam? Untuk masalah itu Prof. Dr. Tobroni mengungkapkan dalam makalahnya Spiritual Leadership The Probem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam sebagaimana berikut:
1.       Sebagai pembaharu.
Keberhasilan pemimpin spiritual dalam mengembangkan pendidikan tidak lepas dari perannya sebagai pembaharu. Gagasan-gagasan  atau ide-ide baru senantiasa keluar dari hasil kontemplasi, penjelajahan  dan pengembaraan intelektualnya yang luas.
2.      Pemimpin Spiritual Sebagai Pemimpin Organisasi Pendidikan.
Sebagaimana dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya,  lembaga pendidikan merupakan industry yang mulia yang merupakan gabungan dari lembaga yang bersifat profit seperti perusahaan, industri dan jasa dan lembaga non profit seperti lembaga sosial kemasyarakatan, dan lembaga dakwah lainnya. Karena itu dari sisi kelembagaan, kekuatan-kekuatan kepemimpinan spiritual sangat cocok untuk memimpin lembaga pendidikan.  Pemimpin spiritual mampu memerankan diri sebagai seorang entrepreneur, corporate dan pembisnis yang handal sehingga mampu mengefektifkan budaya dan proses organisasi dan mengembangkan usaha dan memperbesar laba. Di sisi lain,  pemimpin spiritual juga mampu berperan sebagai seorang tokoh pergerakan, seorang ruhaniawan, relawan dan volunteer yang pandai menarik simpati dan menggerakkan massa, tokoh spiritual dan seorang pekerja sosial. Itulah sebabnya, lembaga pendidikan yang memiliki dimensi sebagai organisasi profit dan organisasi sosial dan dakwah sangat tepat dipimpin oleh orang yang mengembangkan kepemimpinan spiritual.
3.      Pemimpin spiritual sebagai administrator proses pembelajaran.
Kepala sekolah selama ini lebih banyak berperan hanya  sebagai administrator pembelajaran. Tugas mereka seakan sudah selesai apabila proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar dan tertib. Pemimpin spiritual  memandang tugas sebagai administrator sebagai tugas rutin dan karena itu diserahkan pelaksanaannya kepada masing-masing pimpinan bidang atau unit. Ini tidak berarti tugas sebagai administrator tidak penting, melainkan secara organisatoris telah ada pembagian tugas dan sekaligus sebagai bentuk pengkaderan. Posisi pemimpin spiritual dalam hal ini berperan sebagai pengilham, pencerah dan pembangkit.
4.      Pemimpin Spiritual Sebagai Pendidik.
Salah satu kekuatan yang menyebabkan pemimpin spiritual berhasil dalam mengembangkan pendidikan adalah karena perannya sebagai pendidik (murabbi). Di depan muridnya ia tetap seorang guru yang mau menyapa dan  peduli sehingga memiliki hubungan yang harmoni, dekat, akrab dan  khurmah. Di depan guru dan karyawan ia adalah seorang teman sesama guru yang senasip dan seperjuangan. Dengan sesama guru ia tetap egaliter, dekat dan  akrap disamping juga peduli. Bukan hanya dengan sesama guru, dengan muridpun pemimpin spiritual dapat bergurau dengan renyah dan riang.
Dilihat dari proses pembelajaran di lembaga pendidikan, pemimpin spiritual terbukti mampu mengefektifkan proses pembelajaran dan melakukan berbagai inovasi. Sedang apabila dilihat dari substansi dan esensi pendidikan, pemimpin spiritual terbukti mampu mengembangkan pemikiran dan ide-ide baru yang brillian, mencerahkan dan memberdayakan sehingga pendidikan benar-benar mampu memerankan fungsi pokoknya, bukan sekedar fungsi formalnya.

BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan
Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai hidup, menempatkan perilaku dalam konteks makna secara lebih luas. Kepemimpinan pendidikan adalah suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan  dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan. Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian).
Adapun karakteristik pemimpin spiritual yakni kejujuran sejati, adil, Semangat amal shaleh, membenci formalitas dan organized religion, Sedikit bicara banyak kerja dan santai, Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain, Keterbukaan menerima perubahan, Pemimpin yang dicintai, Think Globally and act locally, disiplin tetapi fleksibel dan tetap cerdas dan penuh gairah, dan Kerendahan Hati.
Dan peran pemimpin spiritual  dalam memecahkan permasalahan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa aspek yang diantaranya adalah sebagai pembaharu, sebagai pemimpin organisasi pendidikan, sebagai administrator proses pembelajaran, pemimpin spiritual sebagai pendidik.

DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur. 2009.Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan Pendidikan Profesional. Yogyakarta. Diva Press
Burhanudin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Busro dan Dirawat. 1983. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Tobroni. Spiritual Leadership The Probem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam.
Wahab dan Umiarso. 2011. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


[1] Tobroni, 2010, makalah Spiritual Leadership The Proble Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam.
[2] Abd. Wahab dan Umiarso, 2011, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hal.51
[3] Ibid,.
[4] Burhanuudin, 1994, Analisis Administrasi manajemen dan kepemimpinan pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 64
[5] Ibid, Tobroni,.
[6] Ibid,..


Oleh: Almas J Akbar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host