Showing posts with label RESENSI BUKU. Show all posts
Showing posts with label RESENSI BUKU. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

RESENSI BUKU (Kritik Seni : Wacana, Apresisasi dan Kreasi)



 I. Identitas Buku
Judul Buku      : Kritik Seni : Wacana, Apresisasi dan Kreasi
Penulis             : Dr. Nooryan Bahari, M.Sn
Penerbit           : Pustaka Pelajar
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2008
Tebal Buku      :viii + 198 hlm
Cetakan           : pertama

II. Ikhtisar
Buku Kritik Seni : Wacana, Aprseisasi dan Kreasi ini merupakan buku yang berisikan hal-hal berkaitan dengan seni. Di dalamnya terdapat beberapa tujuh bab yang menjelaskan mengenai kesenian seperti corak dan gaya, apresiasi dan evaluasi terhadap seni serta kritik seni.
Bab I merupakan pendahuluan yang berisikan tentang pengertian kritik seni, tujuan dan fungsi, unsur-unsur kritik seni dan  aspek yang dikritik. Pengertian dari kritik seni yaitu mengevaluasi atau meneliti karya seni atau literatur dengan tujuan memahami karya seni, apa latar belakang dibuatnya karya tersebut, motif apa yang ingin disampaikan sehingga seseorang dapat mengetahui baik buruknya karya tersebut. Sedangkan fungsi dari kritik seni yaitu sebagai jembatan antara seniman dan penikmat seni. Unsur-unsur yang terdapat dalam kritik seni ada empat yaitu deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan penilaian.
Bab II menjelaskan mengenai kebudayaan dan kesenian. Ada beragam pengertian mengenai kebudayaan. Namun secara garis besar kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan dan nilai yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Juga dijelaskan mengenai percampuran dan perubahan budaya.
Pada bahasan  kesenian dijelaskan antara lain mengenai pengertian kesenian yang menekankan pada kebutuhan estetik. Wujud kesenian dibagi menjadi lima yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, seni drama, dan seni sastra.
Bab III berisi tentang seni dan seni rupa. Pengertian seni saat ini berbeda dengan pengertian seni pada saat sebelum  Perang Dunia II. Seni merupakan keterampilan yang diperoleh dari pengalaman, belajar, atau pengamatan-pengamatan. Sedangkan seni rupa yang dibahas di sini merupakan tonggak dari sejarah seni. Hal itu karena sejarah kesenian baik seni tari, musik dan lain-lain diteliti melalui artefak yang tidak lain adalah seni rupa.
Pembahasan mengenai seni rupa mencakup media dan teknik dalam seni rupa, fungsi dan nilai seni rupa, dan penggolongan jenis seni rupa. Seni rupa digolongkan menjadi tiga yaitu seni murni (seni lukis, gambar, patung, grafis), seni terapan (desain interior, arsitektur, tekstil, grafis, dan produk industri), dan seni kria.
Bab IV mengenai elementer kesenianrupaan. Dasar yang digunakan dalam kritik seni adalah pengetahuan mengenai medium seni dalam pengertian luas, yang meliputi isi dan tema karya seni, dann pengertiann terbatas karya seni yang mencakup bahan baku. Selain itu latar belakang budaya dan sejarah merupakan modal dasar dalam kritik seni. Hal ini dikarenakan dalam pertumbuhannya banyak sekali seni rupa yang mengalami gejala baru yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pertumbuhan yang mendahuluinya.
Bab V mengungkapkan mengenai corak dan gaya seni. Aliran-aliran yang dibahas adalah aliran-aliran di Barat serta aliran yang ada di Indonesia. Aliran di Barat sedikitnya ada 19 aliran sedangkan bahasan aliran-aliran  di Indonesia mnjelaskan mengenai sejarah seni rupa di Indonesia.
Bab VI adalah Apresiasi dan Evaluasi. Apresiasi seni merupakan suatu proses sadar yang dilakukan seseorang dalam menghadapi dan memahami karya seni. Apresiasi menuntut keterampilan dan kepekaan estetis guna mendapatkan pengalaman estetis ketika mengamati karya seni rupa. Sedangkan metode yang digunakan dalam mengevaluasi karya seni ada empat yaitu metode induktif, deduktif, empati, dan interaktif.
Bab VII mengulas tentang Kriteria dan tipe kritik seni. Memahami kriteria tentang seni mencakup mengakkan penilaian karena setiap periode kelahiran karya seni mempunyai standar atau kriterianya seendiri-sendiri. Tipe-tipe kritik seni ada empat  yaitu kritik jurnalistik,  kritik pedagogik, kritik ilmiah, dan kritik populer.
III. Kelebihan dan Kekurangan
A. Kelebihan         
Buku karya Dr. Nooryan Bahari ini mempunyai beberapa kelebihan salah satunya adalah dapat memberikan  gambaran mengenai kesenian. Di dalamnya dibahas secara sistematis mengenai  pengertian seni yang kemudian penggolongannya sampai pada akhirnya tentang kritik seni. Buku ini dapat dijadikan panduan untuk mengolah dan mengasah dasar-dasar dalam kritik seni.
Selain itu, buku ini juga menggunakan berbagai pendekatan baik itu sejarah maupun psikologi. Oleh karenanya buku ini dirasa mewakili pengertian-pengertian mengenai seni dari berbagai sudut pandang.
B. Kekurangan
       Penyajian buku ini meskipun mempunyai beberapa kelebihan namun ada pula kekurangannya. Dalam hal ini adalah dari cara penyajian yang panjang-panjang. Penyajian tiap-tiap paragaraf, rata-rata disajikan dengan beberapa garis yang menjadikan tiap paragraf itu terkesan panjang dan membuat orang menjadi malas untuk membacanya.

IV. Kesimpulan
            Buku Kritik Seni : Wacana, Apresiasi, dan Kreasi karya Dr. Nooryan bahari ini merupakan buku yang menjelaskan mengenai dasar-dasar mengenai kritik seni. Buku ini mengajak para pembacanya untuk mempunyai daya kritis terhadap suatu karya seni untuk melihat dan memahami sejauh mana nilai-nilai yang ingin diungkapkan oleh seseorang melalui suatu karya seni.
Buku ini dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa terutama mahasiswa jurusan seni, guru seni maupun mahasiswa lain yang tertarik pada kesenian. Namun juga tidak menutup kemungkinan bagi para pembaca dari kalangan guru-guru, masyarakat umum yang ingin mengetahui teknik dan metode dalam mengkritisi karya seni.

RESENSI BUKU (Bimbingan dan Konseling di Sekolah)



I. Identitas Buku
Judul Buku      : Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Penulis             : Drs. H. Abu Ahmadi
                          Drs. Ahmad Rohani HM
Penerbit           : PT Rineka Cipta
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit    : 1991
Tebal Buku      : viii + 187 halaman
Cetakan           : pertama

II. Ikhtisar
Buku Bimbingan dan Konseling di Sekolah karya Drs. Abu Ahmadi dan Drs. Ahmad Rohani HM ini merupakan buku pedoman dan pengetahuan dasar kepada calon guru agar dapat ikut aktif melaksanakan bimbingan dan konseling kepada murid-murid di bawah asuhannya. Selain untuk mahasiswa calon guru, buku ini juga bisa digunakan sebagai pedoman oleh tenaga kependidikan di sekolah-sekolah.
Buku Bimbingan dan Konseling di Sekolah ini disajikan dalam tujuh bab yang dimulai dari pengertian bimbingan, pengertian konseling, ruang gerak dan jenis bimbingan di sekolah, bimbingan pada tiap jenjang pendidikan, program bimbingan sekolah, bimbingan karir dan jabatan.
Pada bab I, dijelaskan mengenai pengertian bimbingan, sejarah dan fungsinya dalam pendidikan. Kata bimbingan diambil dari bahasa Inggris “guidance” yang berarti bimbingan atau bantuan. Pada prinsipnya bimbingan merupakan pemberian pertolongan dan bantuan. Dalam lingkup sekolah bimbingan difokuskan kepada peserta didik.
Program bimbingan dimulai pada permulaan abad 20 di Amerika oleh Frank Parson. Seiring bertambahnya waktu program ini masuk dalam pendidikan di Indonesia. Namun tidak dipungkiri karena masih mudanya profesi ini maka masih banyak kekurangan diberbagai aspek.
Fungsi bimbingan dalam pendidikan yaitu memperhatikan peserta didik, mendekatkan hubungan sekolah dengan masyarakat, membimbing individu ke arah pekerjaan yang sesuai.
Bab II berkisar seputar pengertian konseling, hubungannya dengan bimbingan, sejarah, prinsip-prinsip, teknik-teknik, tugas dan persyaratan sebagai konselor sekolah. Konseling diambil dari istilah bahasa Inggris “counseling”. Kata konseling meliputi perembugan, pemberian nasihat, penyuluhan, penerangan.
Konseling mempunyai hubungan dengan bimbingan yaitu sebagai  salah satu teknik pelayanan dalam bimbingan secara keseluruhan. Pelayanan itu adalah dengan memberikan bantuan secara individual (face to face relationship).
Sejarah konsleing dibagi menjadi tiga babak atau periode. Pertama yaitu periode formatif yang dimulai tahun 1898. Kedua yaitu periode perkembang kemudian atau periode perintis jalan dari perkembangan sebelumnya. Periode ini ditandai dengan organisasi Occupational Information and Guidance Service pada tahun 1938. Periode ketiga yaitu perkembangan selanjutnya pada tahun 1960-1970 yang difokuskan pada peranan dan fungsi konseling, pendekatan dan lain-lain.
Prinsip Konseling ada 12 yang diambil dari bukunya Dra. Siti Rahayu Haditono berjudul Prinsip-prinsip Bimbingan dan Penyuluhan. Juga dipaparkan prinsip-prinsip dari Cox, Duff dan Mc. Namara. Namun dalam buku ini prinsip yang dikemukakan berpola pada dasara, tujuan, fungsi, sasaran dan segi pelaksanaan.
Bab III berisi tentang asas dan prinsip bimbingan. Asas bimbingan dibagi dua yaitu asas yang berhubungan dengan individu/ peserta didik dan asas yang berhubungan dengan pekerjaan bimbingan. Sedangkan prinsip bimbingan dibagi dua yaitu khusus dan umum.
Bab IV di dalamnya dituliskan ruang gerak dan jenis bimbingan di sekolah. Sebelum dipaparkan mengenai ruang lingkup bimbingan, dipaparkan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan pembatas-pembatas bimbingan dan konsep yang selama ini keliru. Setelah itu dikemukakan ruang lingkup bimbingan yang dibagi menjadi delapan lingkup. Sedangkan jenis bimbingan ada dua yaitu bimbingan studi dan bimbingan pribadi dan sosial.
Pada bab ini juga dipaparkan hubungan bimbingan dengan pendidikan. Bimbingan berfungsi dalam segala situasi yang mengandung permasalahan di sekolah. Termasuk di dalamnya masalah kedisiplinan.
Bab V tentang pembagian bimbingan yang dimulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruam tinggi. Pada bab ini dikemukakan mengenai asas, tujuan, sifat dan fungsi, jenis dan bentuk serta syarat-syarat pokok bimbingan di tiap-tiap jenajang pendidikan.
Bab VI mengupas program bimbingan di sekolah. Adapun yang dibahas dalam bab ini yaitu  peran serta  cara-cara bimbingan dan konseling.
Bab VII membahas bimbingan karir dan bimbingan jabatan, pengertian, tujuan, metode, materi dan lain-lain. Bimbingan karir menekankan pada self concept. Sejauh mana seseorang mengenal dirinya sendiri seperti bakat, kecakapan, minat hasil belajar dan lain sebagainya.
Sesuai dengan pengertiannya, tujuan bimbingan karir yaitu agar peserta didik memahami dirinya sendiri. Selain itu juga memperkenalkan peserta didik mengenai pekerjaan dan agar peserta didik dapat merancang masa depannya masing-masing.

III. Kelebihan dan Kekurangan
A. Kelebihan         
Buku karangan Drs. Abu Ahmadi dan Drs. Ahmad Rohani HM ini memiliki kelebihan antara lain buku ini disajikan dengan menelaah berbagai sumber dan disajikan dengan bahasa lugas sehingga pembaca  mudah untuk memahaminya. Dengan begitu buku ini terkesan simpel dan praktis namun di dalamnya mencakup beberapa hal mengenai bimbingan dan konsleing di sekolah.
B. Kekurangan
            Beberapa kekurangan dalam buku ini yaitu berkisar tentang teknis penulisan. Ada beberapa kesalahann penulisan terutama kata-kata bahasa Inggris yang tidak dicetak miring. Kemudian sistem penomoran (numbering) yang kurang teratur sehingga pembaca harus membolak-balik halaman untuk mengetahui urutannya.

IV. Kesimpulan
Buku Bimbingan dan Konseling di Sekolah bisa dijadikan sebagai pedoman ataupun pegangan dalam mempelajari seputar bimbingan dan konseling di sekolah. Baik itu guru, kepala sekolah dan tenaga lainnya. Di dalamnya ada beberapa petunjuk-petunjuk teknis pada para administrator sekolah, pegawai, guru TK hingga dosen perguruan tinggi
Meskipun sudah lama diterbitkan, buku ini masih digunakan sebagai referensi di perguruan tinggi. Oleh karena itu, buku ini bermanfaat bagi mahasiswa calon guru di perguruan tinggi jurusan kependidikan.

Sunday, March 25, 2012

RESENSI BUKU Manajeen Pendidikan (Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia)


Rounded Rectangle: Nama  : Almas Juniar Akbar
NIM  : 09410190
Kelas/Absen : PAI-E/21
Identitas Buku
Judul               : Manajeen Pendidikan (Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia)
Penulis             : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.
Penerbit           : Kencana Predana Media Group
Bulan Terbit    : Mei 2010
Tebal Buku      : x + 326 hlm.
Sebagai sebuah proses yang berlangsung secara cepat dan dinamis, pendidikan Islam termasuk yang paling banyak yang menghadapi problematika. Berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan pendidikan Islam, mulai dari visi, misi, tujuan, dasar, dan landasan pendidikan, tujuan kurikulum, tenaga kependidikan, menotodlogi pembelajaran, sarana prasarana, evaluasi, dan pembiayaan, secara keseluruhan mengandung permasalahan yang hingga kini belum dapat dipecahkan secara tuntas. Demikian pula perhatian dan kesungguhan pihak pemerintah dan masyarakat dalam ikut serta mengatasi permasalaahn pendidikan sebagaimana yang tersebut diatas, masih merupakan persoalan yang belum terpecahkan.
Melalui buku ini penulis mencoba untuk memberikan gambaran tentang peta permasalahan pendidikan Islam tersebut serta sekaligus menawarkan alternatif pemecahannya. Secara historis, perkembangan pendidikan Islam sangat berkaitan erat dengan kegiatan dakwah Islamiyah. Pendidikan Islam berperan sebagai mediator dalam memasyarakatkan ajaran Islam kepada masyarakat. Dan tingkat pemahaman, penghayatan dan pengamalan masyarakat tergantung pada tingkat kualitas pendidikan Islam yang diterimanya.
Akan tetapi pendidikan Islam di Indonesa sering  berhadapan dengan berbagai problematika yang tidak ringan. Berbagai komponen yang terdapat dalam pendidikan Islam ini sering kali berjalan apa adanya, alami dan tradisional, serta dilakukan tanpa perencanaan dan konsep yang matang. Sehingga, dengan keadaan yang demikian, maka mutu pendidikan Islam sering kali menunjkkan keadaan yang kurang menggembirakan. Selain itu, landasan dan dasar pendidikan Islam (Al-Qur’an dan As-Sunah) belum benar-benar digunakan sebagaimana mestinya. Hal tersebut dikarenakan belum adanya sarjana dan pakar di Indonesia yang secara khusus mendalami Al-Qur’an dan As-Sunah dalam pandangan pendidikan Islam. Dan diperparah lagi dengan keminiman tenaga pendidik Islam yang professional, yakni menguasai materi ilmu yang diajarkannya secara baik dan benar, mampu mengajarkannya secara efisien dan efektif kepada para siswa, serta memiliki idealisme dan akhlak yang mulia. Begitu pula dengan metodologi pengajarannya yang masih bersifat tradisonal dan belum diarahkan pada peningkatan motivasi, kreativitas, imajinasi, inovasi, dan etos keilmuan, serta berkembangnya potensi peserta didik belum dapat dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan.
Dalam proses sosialisasi Islam yang melalui pendidikan, selain dilakukan oleh masyarakat, pemerintah pun perlu juga memiliki andil untuk melakukannya. Karena pendidikan dan pemerintah memiliki hubungan timbal balik. Disatu sisi kualitas pemerintah tergantung pada kualitas lulusan pendidikan. disisi lain pemerintah juga mempengaruhi dunia pendidikan. dari sinilah muncul istilah politik pendidikan. politik pendidikan adalah segala usaha, kebijakan, siasat yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam perkembangan selanjutnya politik pendidikan adalah penjelasan atau pemahaman umum yang ditentukan oleh penguasa tertinggi untuk mengarahkan pendidikan dan menentukan  tindakan dengan perangkat pendidikan dalam berbagai kesamaan dan keanekaragaman beserta tujuan dan program untuk merealisasikannya.
Dan peta konflik pendidikan Islam di Indonesia senantiasa diwarnai oleh peta perpolitikan pemerintah. Dari sejak zaman pra kemerdekaan hingga pasca reformasi, pendidikan Islam masih berada dalam posisi yang secara umum belum berpihak pada pemberdayaan umat. Pendidikan lebih merupakan alat pemerintah untuk menggiring rakyat dan umat kepada tujuan politik yang diinginkan.
Salah satu masalah yang sering diungkapkan oleh pengamat pendidikan Islam adalah kekurangan jam pelajaran untuk pengajaran agama Islam yang disediakan oleh sekolah-sekolah umum. Masalah inilah yang dianalisir sebagai penyebab utama timbulnya kekurangan pelajar memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama. Sehingga para pelajar  tidak memiliki bekal yang memadai untuk membentengi dirinya dari berbagai pengaruh negative yang disebabkan oleh arus globalisasi yang menerpa kehidupan manusia. Untuk menyiasati kekurangan jam pelajaran agama tersebut, perlu dilakuakan dan dikembangkan  dengan mencari cara lain yang lebih efektif sesuai dengan perkembangan zaman. Dan beliau memberikan alternatif yang berupa, mengubah orientasi dan focus pengajaran agama yang semula bersifat subject matter oriented menuju pengajaran agama yang berorientasi pada pengalaman dan pembentukan sikap keagamaan melalui pembiasaan hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, menambah jam pelajaran agama yang diberikan diluar jam pelajaran yang telah ditetapkan, meningkatkan perhatian, kasih sayang, bimbingan dan pengawasan oleh orang tua murid, melaksanakan tradisi keislaman yang didasarkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunah yang disertai dengan penghayatan makna dan pesan moral yang terkandung didalamnya. Pembinaan sikap keagamaan melalui media masa.
Dalam menyikapi permasalahan metodologi pengajaran Islam, beliau manawarkan solusi yang berupa Quantum Teaching, yakni dengan memadukan dan menyempurnakan metode-metode pengajaran yang telah ada sebelumnya. Dan hal yang penting pula adalah pengajaran Islam perlu memperhatikan pembinaan kecerdasan emosional, yang diharapkan dapat mencetak lulusan yang dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya.
Perkembangan di era globalisasi ini mempunya pengaruh yang sangat kuat terhadap dunia pendidikan. berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan perlu diadakan penataan ulang yang sesuai dengan perubahan dan tuntutan zaman tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan Islam tetap bertahan secara fungsional dalam memandu perjalanan umat manusia. Dalam hal tersebut perlu dilakukan beberapa uapaya yang strategis, antara lain: pertama, pendidikan diupayakan melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri dan produktif. Kedua, guru perlu memiliki informasi, berakhlak mulia dan mampu menyampaikan secara metodologis, juga mampu mendaya gunakan tekhnologi dan berbagai sumber informasi dalam kegiatan belajar mengajajar. Ketiga, bahan pelajaran umum dan agama perlu diintegrasikan dan diberikan kepada siswa sebagai bekal yang menyeluruh.
Selain permasalah-permasalah diatas penulis juga menyikapi berbagai permasalahan berbagai aspek pendidikan yang berupa tenaga kependidikan yang harus memegang teguh kode etik dan peningkatan mutu profesionalismenya serta mampu mendidik kader-kader penerus bangsa, pendidikan dan moral bangsa yang diorientasikan pada nilai-nilai agama Islam yang ditujukan untuk membentuk, etika, moral, budaya dan akhlak bangsa, organisasi dan metodologi pengajaran sebagai sarana keagamaan dan pembentukan kristalisasi nilai-nilai keagamaan pada siswa, dan materi pokok pendidikan Islam yang diorientasikan pada pentauhidan Allah dan memahami Al-Qur’an dan Hadist.
Dan dalam bukunya, beliau pun mencoba memaparkan solusi untuk memajukan pendidikan Islam sebagai pendidikan yang unggul setelah melihat pendidikan Islam yang masih tertinggal dan menghadapi berbagai macam problema. Sebagai mana yang diuraikan, pendidikan agama memiliki andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa, untuk itu pendidikan agama perlu memiliki kualitas yang tinggi agar dapat mencapai tujuan tersebut. Dan untuk itu pulalah perlu adanya manajemen pendidikan yang modern dan berkualitas.
Dalam menjelaskan dan memaparkan bahasan manajemen pendidikan ini, penulis mencoba mengulas berbagai persoalan manajemen pendidikan Islam dnegan bahasa yang mudah dipahami dan tersusun secara sistematis. Pembahasan pun mencangkup berbagai manajemen pendidikan agama di Indonesia dari pra kemerdekaan hingga masa kini di era globalisas. Sehingga buku ini masih relevan dan cocok untuk dijadikan rujukan perkuliahan. Selain itu, setiap pembahasan, penulis juga memberikan kesimpulan di akhirnya, sehingga pembaca akan lebih mudah memahami dan menghayati dari setiap pembahasan yang telah disampaikan.

Saturday, March 24, 2012

RESENSI BUKU Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah


RESENSI BUKU
Identitas Buku
Judul Buku      : Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi)
Penulis             : Drs. Tohirin, M. Pd.
Penerbit           : PT. Raja Grafindo Persada Jakarta
Tahun Terbit    : 2007
Tebal Buku      : xxvi+364 hlm.
Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK), berbagai persoalan pun terus bermunculan dengan segala kompleksitasnya. Dunia pendidikan tampaknya masih belum sepenuhnya mampu menjawab berbagai persoalan akibat perkembangan IPTEK, indikasinya adalah munculnya berbagai penyimpangan perilaku dikalangan peserta didik. Dan selain itu, potensi siswa sebagai individu juga belum terkembangkan dan tersalurkan secara optimal melalui proses pendidikan dan pembelajaran dikelas.
Guna memecahkan persoalan-persoalan tersebut, proses pendidikan dan pembelajaran perlu bersinergi dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Optimalisasi pelayanan di sekolah dan madrasah perlu dilakukan, sehingga pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dan madrasah benar-benar memberikan kontribusi pada pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah dan madrasah yang bersangkutan. Optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dan madrasah perlu didukung oleh sumber daya manusia yang memadai. Berdasarkan hal tersebut, Drs. Tohirin mencoba memaparkan penjelasan-penjelasan tentang bimbingan dan konseling bagi sekolah dan madrasah yang berbasis pada integrasi yang dimaksudkan sebagai bekal bagi para konselor di sekolah dan madrasah.
Didalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa bimbingan sangat berkaitan erat dengan pendidikan. mengapa diperlukan bimbingan konseling di sekolah maupun madrasah? Hal tersebut dilator belakangi dengan berbagai fenomena yang terjadi pada peserta didik yang melakukan perilaku menyimpang, degradasi moral, strees dan lain-lain. Selain itu juga dilatar belakangi dengan perkembangn IPTEK yang semakin maju yang menimbulkan perubahan-perubahan pada berbagai aspek kehidupan serta makna dan fungsi pendidikan yang hakikatnya sangat berkaitan dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling. Begitu pula dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik, yakni mendidik sekaligus mengajar (membantu peserta didik untuk mencapai kedewasaan), dan membimbing. Dan juga dilatar belakangi oleh faktor psikologis yang dialami oleh siswa sebagai pribadi yang memiliki segala karakteristik yang unik dan dilator belakangi oleh perkembangan individu, masalah perbedaan individu, masalah kebutuhan individu, masalah penyesuaian diri dan masalah belajar.
Adapaun pengertian bimbingan dan konseling sendiri, Drs. Tohirin mengungkapkan dalam bukunya sebagaimana berikut. Bimbingan adalah proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada terbimbing agar individu yang dibimbing mencapai perkembangan yang optimal. Sedangkan konseling adalah kontak timbal balik antara dua orang (konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, yang didukung oleh keahlian dan dalam suasana yang laras dan integrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien. Dari pengertian tersebut pengertian bimbingan dan konseling adalah proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui hubungan timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.
Bimbingan dan konseling, khususnya di sekolah dan madrasah memiliki tujuan agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang dibimbing. Sedangkan fungsi bimbingan dan konseling adalah (1) fungsi pencegahan, (2) pemahaman, (3) pengentasan, (4) pemeliharaan, (5) penyaluran, (6) penyesuaian, (7) pengembangan, (8) perbaikan dan (9) advokasi. Dari tujuan dan fungsi bimbingan dan konseling tersebut, beliau merelevansikannya dengan nilai Islam yang berupa fitrah. Fitrah manusia merupakan potensi yang perlu dikembangkan dan diarahkan agar dapat mencapai ridho-Nya.
Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan, dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu (siswa) secara optimal agar  masing-masing individu dapat berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Dan hal tersebut memiliki beberapa tahapan, yakni (1) pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri, (2) pengenalan lingkungan, (3) pengambilan keputusan, (4) pengarahan diri dan (5) eksistensi diri (perwujudan diri). Pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dan madrasah pun mempunyai ruang lingkup yang luas dan dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu segi fungsi, sasaran, layanan dan masalah.
Dalam memberikan pelayanan BK disekolah dan madrasah secara profesional, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijadikan pedoman dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah (1) prinsip-prinsip umum,(2) prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu (siswa), (3) prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan pembimbing, (4) prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi bimbingan dan konseling. Selain prinsip diatas, untuk mencapai bimbingan dan konseling yang profesional pun perlu memperhatikan asas-asasnya, yaitu (1) asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan individu (siswa), (2) asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan. Dan bimbingan dan konseling sebagai layanan kemanusiaan memiliki landasan-landasan yang perlu diperhatikan, yakni (1) landasan filosofis, (2) landasan religius, (3) landasan psikologis, (4) landasan sosial budaya, (5) landasan ilmiyah dan tekhnologi, serta (6) landasan pedagogis.
Petugas bimbingan dan konseling disekolah dan madrasah dapat dikatakan profesional jika telah memenuhi beberapa persyaratan. Adapun persyaratan tersebut atas dasar kualifikasi (1) kepribadian, (2) pendidikan, (3) pengalaman, (4) kemampuan. Selain itu, petugas pun memerlukan beberapa keterampilan untuk menjadi petugas BK profsional. Adapun kterampilan tersebut terdiri dari tiga tahap, yang pertama adalah tahap awal, diantaranya adalah keterampilan attending, keterampilan mendengarkan, keterampilan berempati, keterampilan eksplorasi, keterampilan refleksi, keterampilan bertanya, keterampilan menangkap pesan utama, keterampilan memberikan dorongan minimal. Kedua tahap pertengahan, yaitu keterampilan menyimpulkan sementara, keterampilan memimpin, keterampilan memfokuskan, keterampilan melakukan konfrontasi, keterampilan menjernihkan, keterampilan memudahkan, keterampilan mengarahkan, keterampilan memberikan dorongan, keterampilan sailing, keterampilan mengambil inisiatif, keterampilan memberi nasehat, keterampilan memberi informasi, keterampilan menafsirkan. Ketiga tahap akhir, yakni keterampilan menyimpulkan, keterampilan merencanakan, keterampilan menilai, keterampilan mengakhiri konseling.
Bidang-bidang pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mencangkup bidang pengembangan pribadi, pengembangan sosial, pengembangan kegiatan belajar, pengembangan karier, pengembangan kehidupan berkeluarga, pengembangan kehidupan beragama. Sedangkan jenis-jenis pelayananya adalah layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi dan yang terahir adalah layanan mediasi.
Pelayanan bimbingan dan konseling  disekolah dan madrasah pada saat ini sudah cenderung lebih baik daripada sebelumnya. Akan tetapi pandangan negatif dan kesalahan persepsi masih sering terjadi. Untuk menanggulangi hal tersebut maka perlu diadakan pengantar urgensi program bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah. Selain itu, melihat kinerja petugas layanan dan bimbingan di sekolah dan madrasah yang belum profesional pun dapat mempengaruhi citra layanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah. Untuk itu, seorang BK harus benar-benar menjalankan tugas, peran, fungsi, dan tanggung jawabnya secara  baik, menyusun program layanan BK sesuai lingkup dan bidang layanan BK serta mengidentifikasi berbagai permasalahaan dan kasus-kasus siswa. Dengan terwujudnya hal tersebut, maka persepsi negatif terhadap layanan BK tidak akan terjadi.
Selain itu, agar layanan BK disekolah dapat berjalan secara efektif dan efisien dan mencapai tujuan yang ditetapkan, maka  harus disusun programnya secara terencana dan sistematis serta memerlukan manajemen layanan BK baik. Adapun dalam proses BK, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, yang diantaranya adalah metode bimbingan kelompok dan metode bimbingan individual. Sedangkan langkah-langkah konseling adalah yang pertama menentukan masalah, kedua pengumpulan data, ketiga analisis data, keempat analisis, kelima prognosis, keenam terapi dan terakhir evaluasi atau follow up.
Penulis dalam menjelaskan bimbingan dan konseling disekolah dan madrasah secara gamblang dan sistematis. Sehingga dengan mudah dan nyaman pembaca dapat mengerti dan memahami. Adapun pembahasan-pembahasannya, mengintegrasikan antara nilai-nilai keislaman dengan sains modern dan yang sesuai dengan tuntunan silabus mata kuliah sehingga cocok sekali untuk dijadikan referensi bagi mahasiswa.

Friday, March 23, 2012

REVIEW BUKU Antropologi Pendidikan BAB II


REVIEW BUKU
Identitas Buku
Judul Buku      : Antropologi Pendidikan
Penulis             : Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. dan Dr. Ija Suntana, M.Ag.
Penerbit           : CV. Pustaka Setia Bandung
Tahun Terbit    : 2012
Tebal Buku      : 251 hlm.; 16 cm x 24 cm

ANTROPOLOGI PENDIDIKAN BAB II
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Dalam Bab ini Penulis membagi pembahasan menjadi dua sub pokok. Sub yang pertama menjelaskan tentang evolusi manusia dan kemunculan masyarakat. Sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, manusia memiliki struktur biologis yang membantu menentukan manusia dalam bertindak dan berpikir. Manusia juga dapat disebut sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok dan bermasyarakat serta saling membantu satu sama lainnya untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan lainnya. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya ialah manusia merupakan makhluk yang berbudaya yang menciptakan dan memindahkan pengetahuan serta mempertahankan tradisi berpikir dan berperilaku.
Asal mula manusia merupakan hal yang sangat penting yang masih menjadi perbincangan. Penelitian dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan teologis dan pendekatan sains. Kedua pendekatan ini saling bertolak belakang dan sulit ditemukan titik temunya. Pendekatan yang pertama bersifat dogmatis dan kaku sedangkan  pendekatan yang kedua bersifat spekulasi  dan berjangakar material. Pendekatan yang pertama meyakini bahwa semua makhluk hidup di dunia ini berasal dari sebuah proses teologis, berada dalam campur tangan Tuhan. Sedangkan pendekatan yang kedua menganggap segala makhluk hidup di alam ini merupakan hasil proses material yang memiliki titik awal yang bersifat materi dengan cara yang kebetulam. Dan pembuktiaannya pun perlu menggunakan materi pula.
Berdasarkan pendekatan teologis, manusia pertama adalah Adam yang langsung diciptakan melalui tangan Tuhan. Pengetahuan ini bersifat samawi dan didasarkan pada wahyu Ilahiyah yang bersifat dogmatis. Sedangkan pendekatan sains, asal mula manusia dijelaskan oleh teori evolusi biologis yang digagas pertama kali oleh para ilmuan Yunani dan dikembangkan secara sistematis oleh Charles Darwin dan para pendukungnya. Penelitian ini didasarkan dengan memperbandingkan dengan kawanan binatang berkelompok sehingga memunculkan dugaan bahwa manusia bersal dari kera yang telah berevolusi.
Prinsip Dasar Evolusi Biologis
Bentuk-bentuk kehidupan berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain melalui transformasi dan  modifikasi yang tak pernah putus. Darwin mengemukakan bahwa evolusi makhluk hidup didasarkan pada seleksi alam. Teori ini sangat rentan dengan berbagai serangan dan kritik karena teori ini dicetuskan tanpa memedulikan kemunculan teori hereditas oleh Mendel tentang pewarisan karakter yang kurang mendapat perhatian serius.
Dan pada abad ke-20, prinsip pewarisan karakter ini dimunculkan kembali dan digunakakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih definitive tentang berlangsungnnya seleksi alam secara nyata. Teori genetika ini meluas ke jaringan populasi makhluk hidup yang dikenal dengan istilah genetika populasi yang dapat memperkuat gagasan Darwin. Kolaborasi antara teori seleksi alam dan genetika populasi memunculkan teori evolusi sintetika modern yang dikenal dengan sebutan Neo Darwinism.
Hereditas dan Variable Genetika
Unit dasar pewarisan karakter (hereditas) adalah gen yang berupa unit informasi biokimia. Gen terdiri atas unsure pembentuk dasar semua makhluk hidup yang disebut dengan deoxyribonucleic acid (DNA). DNA memiliki kemampuan unik untuk menciptakan tiruan yang betul-betul sama dengan dirinya. Karena gen terdiri atas DNA, ia dapat menciptakan tiruan yang pasti sama dengan dirinya sendiri dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga dapat mempertahankan diri dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Akan tetapi, terkadang terjadi kesalahn dalam mekanisme peniruan tersebut dan gen gagal menciptakan  tiruan dirinya yang benar-benar sama yang dikenal dengan istilah mutasi gen. Dalam setiap populasi di regenerasinya, mutasi tersebut selalu muncul walaupun hanya sedikit. Mutasi ini terjadi dengan kekuatan selektif yang secara sistematik mengeleminasi gen-gen yang berbahaya dan memelihara serta mengekalkan sedikit gen yang menguntukan. Kekuatan seleksi ini disebut dengan seleksi alam.
Seleksi dan Adaptasi
Seleksi alam adalah proses seleksi oleh alam terhadap bahan-bahan genetika tertentu sehingga memungkinkan makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Seleksi alam merupakan sebuah proses adaptif. Jika sebuah sepesies dapat beradaptasi dengan baik bersama habitatnya, dan jika habitatnya tetap atau tidak berubah, kita dapat mengasumsikan bahwa tidak ada evolusi lebih lanjut yang dialami sepesies tersebut secara subtansial.
Evolusi Sepesies Manusia
Dalam sekala kehidupan phylogenetika, manusia termasuk ordo taksonomi yang dikenal dengan primata berjenis Hominidae sekeluarga dengan Cibidae (kera dunia baru), Cercopthecidae (kera dunia lama) dan Hylobatidae (kera besar). Akan tetapi salah kaprah jika menyebutkan bahwa manusia berasal dari kera besar. Karena masing-masing spesies memiliki jalan masing-masing untuk mengembangkan dirinya. Para antropolog mendeskripsikan manusia pertama adalah berjenis Australopithecines berbadan kecil, berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki yang kemudian bertransisi ke homo habilis dan homo erectus yang berperawakan  lebih besar dan kasar serta memiliki volume otak yang kecil. Evolusi selanjutnya diwakili dengan Neandertals. Sepesies ini yang paling dekat dengan manusia modern sekarang.
Evolusi dan Komunikasi
Perkembangan terpenting  manusia dalam evolusi hominid ialah perkembangan kebudayaan yang berkaitan erat dengan evolusi otak dan perkembangan belajarnya. Kebudayaan dimungkinkan berkembang dengan perkembangan komunikasi yang berupa komunikasi simbolis. Dan simbol tersebut bersifat terbuka dan produktif sehingga memunculkan kemungkinan untuk berubah dan berkembang.
Asal mula bahasa belum diketahui secara pasti. Sanderson mengemukakan bahwa bahasa muncul dari pembukaan sistem penyebutan. Sistem penyebutan ini berkembanga dan ditransmisikan kepada generasi selanjutnya melalui pengajaran. Sistem ini dikenal dengan istilah prabahasa. Dengan bahasa sebagai simbol, dapat melancarkan kemunculan kebudayaan manusia.
Sub pokok yang kedua menjelaskan tentang evolusi kebudayaan manusia. Manusia adalah makhluk sosial, karena mereka hidup bersama dalam berbagai kelompok dan teroganisasi dalam istilah masyarakat. Kehidupan berkelompok ini tidak hanya berlaku bagi manusia saja, melainkan juga berlaku bagi sepesies yang lainnya. Akan tetapi  yang membedakannya adalah peranan belajar manusia melebihi peranan yang dimainkan oleh faktor-faktor biologis dalam pembentukan perilaku sosial. Dan belajar manusia merupakan suatu sistem yang diatur secara kultural.
Kebudayaan merupakan salah satu karakteristik anggota masyarakat yang telah dipelajari dan disebarkan, bukan merupakan hasil warisan biologis. Kebudayaan adalah hasil dari hubungan-hubungan yang terpolakan yang dicapai di antara orang-orang dalam masyarakat dan memiliki tiga unsur pokok yakni ide atau gagasan, perilaku dan hasil. Dan mengapa kebudayaan mengalami perubahan? Hal ini didasarkan pada poses sosialisasi manusia yang memungkinkan kemunculan tranmisi kebudayaan. Manusia yang sebagai anggota masyarakat penerus memberikan respon dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang dialami oleh generasi sebelumnya. Ketika kenyataan historis ini berubah, maka orang akan mengubah cara mereka memberikan respond an beradaptasi.
Ciri manusia yang memiliki tingkat diversitas yang luar biasa dalam sistem sosio-kultural akan mengalami kejutan budaya yang disebabkan oleh differential dan perkembangan serta perubahan budaya, yang semula memiliki kebudayaan sendiri dibenturkan dengan kebudayaan yang lain. Karena kita adalah produk kebudayaan kita sendiri,  maka differential kebudayaan menjadi sah sah saja. Karena kebudayaan merupakan  hasil adaptif manusia.
Dalam ragam sosio-kultural manusia dalam penciptaan kebudayaan, para antropolog mengembangkan konsep subkultur dan budaya tandingan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host